Kampung Adat Terpopuler Indonesia

Kampung Adat Terpopuler tahun 2019

1. Jagoi Babang – Kab. Bengkayang

Jagoi Babang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Indonesia. WIlayah ini terletak di perbatasan Kalbar-Serawak (batas sebelah timur, kurang lebih 1 jam ke Kota Serawak). Sebelah utara Kecamatan ini berbatasan dengan Lundu, Sarawak Malaysia, sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Seluas dan kecamatan Siding, sebelah timur berbatasan dengan Serikin, Sarawak Malaysia. Di kecamatan ini terdapat enam desa, yaitu Desa Jagoi, Desa Sekida, Desa Sinar Baru, Desa Semunying Jaya, Desa Kumba, Desa Gersik. Desa Jagoi terdiri atas 3 Dusun yaitu Dusun Jagoi Babang, Dusun Risau, dan Dusun Sei-Take (Dusun-dusun ini letaknya bersebelahan). Kampung Budaya Jagoi memiliki rumah adat “Baluk” terbesar di Kalimantan, dibangun secara swadaya,dan dilakukan secara gotong royong. Hampir seluruh penduduk Desa Jagoi adalah suku Dayak Bidayuh dan Dayak Iban. Kebanyakan penduduk adalah pedagang, pengrajin anyaman rotan, dan berkebun. Hal yang menjadi ciri khas dari kecamatan ini adalah kerajinan Bidai dan barang-barang yang terbuat dari rotan. Selain itu, adat istiadat yang masih cukup kental, masyarakat yang hangat dan masih sangat mengenal istilah gotong royong serta bangunan rumah adat yang masih berdiri, membuat kecamatan ini menjadi sebuah kecamatan yang unik dan penuh dengan kebudayaan yang khas.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Siti Mustiani (@sitimustiani) on


2. Padang Ranah-Tanah Bato – Kab. Sijunjung

Kampung Adat Padang Ranah-Tanah Bato Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, merupakan salah satu investaris cagar budaya Sumatera Barat yang memilki nilai sejarah penting. Untuk itu, upaya untuk menjaga kelestariannya akan dilakukan melalui konservasi secara fisik. Sebagai Kampung adat yang dibangun pada abad ke-14, telah menjelma menjadi kampung tradisional yang selama ratusan tahun masih mempertahankan keaslian budaya matrilineal dalam kehidupan sehari-hari warganya. Bangunan rumah gadang tidak mengelompok menurut suku, tapi membaur antar suku. Perkampungan tua ini diyakini para tetua adat didirikan pada abad ke-14, sezaman dengan Adityawarman mendirikan Kerajaan Pagaruyung di Saruaso, Tanah Datar. Kampung ini dibentuk atas kesepakatan enam suku di Nagari Sijunjung. Dahulu di Nagari Sijunjung terdapat rumah gadang di beberapa tempat di tiap jorong (kampung). Tetapi kemudian disepakati rumah gadang hanya didirikan di Jorong Padang Ranah dan Jorong Tanah Bato yang letaknya dalam satu ruas jalan yang sama dengan jumlah seluruhnya 76 rumah. Pada tahun 2015, Perkampungan Tradisional Nagari Sijunjung masuk dalam daftar tentatif warisan dunia UNESCO.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Anak Anak Minang Official (@anakanakminang) on


3. Kampung Mancong – Kab. Kutai Barat

Lamin adalah rumah panjang khas suku Dayak yang terbuat dari kayu. Walaupun sekarang sudah tidak ada yang tinggal di rumah Lamin, namun rumah ini masih menarik perhatian bagi banyak wisatawan yang berkunjung. Rumah ini biasanya digunakan sebagai tempat pelaksanaan acara adat dan tujuan wisata. Terdiri di atas lahan seluas 1.005 meter persegi, rumah Lamin Mancong terdiri atas bangunan 2 lantai dengan halaman yang luas di depannya. Daerah sekitar Lamin Mancong juga terasa sangat asri karena dikelilingi oleh pohon-pohon dan sebuah aliran sungai. Ada berbagai jenis patung berdiri tegak di halaman depan Lamin Mancong. Beberapa diantaranya adalah patung laki-laki, perempuan, dan patung semi abstrak lainnya. Konon, keberadaan patung ini adalah sebagai tanda jumlah kerbau yang telah disembelih. Kerbau-kerbau ini disembelih sebagai bentuk penghargaan terhadap arwah leluhur yang dianggap berjasa. Semua ini dilakukan dalam sebuah ritual adat bernama Ritual Kuangkai. Lokasi Lamin Mancong berada ditengah perkampungan, tepatnya di Kampung Mancong, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Mahakam Explore (@mahakam_explore) on


Kampung Adat Terpopuler tahun 2018

1. Kampung Al Munawar – Kota Palembang

Kampung bersejarah di Palembang, salah satunya yaitu Kampung Al Munawar yang merupakan Kampung pemukiman Arab pertama di Palembang atau sering disebut Kampong Arab, terletak di daerah 13 Ulu, sering disebut juga dengan nama Kampong 13 Ulu atau Kampong Arab 13 Ulu. Istilah nama daerah Ulu dan Ilir sering terdengar bila kita berada di Palembang dan Jembatan Ampera yang dijadikan sebagai titik tengahnya, untuk bagian hulu Sungai Musi disebut Ulu dan Ilir untuk bagian dari hilir sungai. Kampung yang terletak di tepi sungai Musi ini, memiliki sejumlah cerita di dalamnya. Untuk mencapai kampung ini, ada dua jalur yang dapat dilewati yakni menggunakan perahu getek atau perahu masyarakat yang bisa disewa sambil menikmati semeriwingin angin dan suasana sungai Musi atau dengan menggunakan jalur darat.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by aidil fikri (@aidil_baba) on


Konon sekitar 300 tahun yang lalu ada seorang saudagar kaya dari Yaman, Habib Abdurrahman Al Munawar, Ia berdagang dari melalui jalur Gujarat, lalu ke Singapura, Malaysia lalu ke Bangka Belitung hingga sampai ke Palembang dan kini Kampung ini sendiri memilki 64 kepala keluarga yang berisi empat hingga lima kepala keluarga di dalam satu rumah. Saat ini sudah sampai keturunan ke delapan yang sudah menetap di kampung ini. Keunikan lain dari kampung ini yaitu rumah-rumah tua yang berumur 200 tahun bahkan ada yang berumur 300 tahun dengan berbagai jenis rumah seperti Rumah Kembar Laut, Rumah Kembar Darat, Rumah Tinggi atau Rumah Gudang, Rumah Limas, Rumah Madrasah, Rumah Kaca, Rumah Indis dan Rumah Kapiten Arab. Para wisatawan dapat berfoto-foto dengan latar belakang rumah penduduk asli Kampung Arab. Warnanya yang cerah, serta dekorasi rumah yang unik pun menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

 

2. Gedung Batin – Kab. Way Kanan

Gedung Batin adalah sebuah kampung yang berada di wilayah Kecamatan Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Kampung yang berjarak 22 km dari Ibukota Kabupaten ini merupakan kampung wisata dengan sejumlah bangunan tua berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu yang konon berusia lebih dari 400 tahun.

Menurut catatan sejarah, bahwa Desa Gedung Batin merupakan salah satu desa tertua di Lampung.  Penduduk yang menetap di tepian sungai Way Besay ini merupakan cikal bakal berkembangnya Kabupaten Way Kanan.  Kehidupan mereka tidak bisa terlepas dari keberadaan dan fungsi sungai ini.  Masyarakat terbiasa menggunakan rakit bambu, menelusuri sungai, untuk mengangkut dan memperdagangkan hasil bumi, seperti lada, cengkeh, kopi dan karet, sebagai salah satu sumber nafkah asli masyarakat setempat.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KAMPUNG WISATA GEDUNG BATIN (@gedungbatin) on


Kesadaran untuk melestarikan peninggalan sejarah pun mulai dibangkitkan. Karena wisata sejarah dapat dijadikan sebagai salah satu opsi sumber pendapatan daerah.  Terdapat 8 unit rumah tua yang masih berdiri tegak yang  dibangun di atas gelondongan kayu yang kokoh, rumah-rumah ini membawa ciri khas rumah panggung Lampung. Menurut catatan bahwa rumah tertua dibangun tahun 1741 dengan arsitektur tradisional Lampung. Di dalam rumah masih tersimpan perabotan antik, peralatan rumah tangga kuno, perangkat adat dan budaya Lampung. Pada salah satu rumah terlihat rangkaian huruf/tulisan Cina yang terukir dengan rapih di kayu penyanggahnya.  Jejak ini seperti mengarahkan kita bahwa dalam suatu waktu memang ada keterlibatan orang Cina (kemungkinan besar adalah pedagang) yang tinggal dan membantu masyarakat setempat dalam membangun tempat tinggal. Disini juga terdapat sebuah kuburan tua dengan nisan yang menyerupai kubah lancip berukuran kecil.  Angka 1305 dan nama Siti Fatimah pun terukir diatas nisan ini.

3. Desa Kanekes – Kab. Lebak

Lokasi Desa Kanekes berada di kaki pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten memiliki daya tarik yang masih kental dengan adat istiadat dan budayanya. Pemandangan alam yang masih asri dengan nuansa alam sejuk serta kehidupan masyarakatnya yang masih sangat kuat mempertahankan tradisi dan budaya menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi bagi para wisatawan pecinta petualangan. Menuju desa wisata Kanekes Banten dilakukan dengan berjalan kaki yang di pandu oleh pemandu lokal yang berasal dari masyarakat penduduk setempat, Jalan yang berliku, tanah dan batu menjadi alas jalan yang harus dilalui untuk mencapai kawasan desa wisata yang cukup dikenal oleh masyarakat luas bahkan dunia internasional sekalipun.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Ayumi Bara Bara (@ayumi_barabara) on


Leluhur Suku Baduy adalah orang yang sangat menjunjung tinggi adat dan mereka sangat sulit untuk menerima budaya modern, ciri khas orang Suku Baduy itu dapat terlihat dari  setelan pakaian putih-putih dengan ikat kepala yang digunakan juga berwarna putih, ada juga sebagian yang berwarna hitam. Lokasi penduduk dan masyarakat di sini terbagi dua yaitu baduy luar dan Baduy dalam. Di kawasan Baduy dalam wisatawan tidak diperkenankan untuk mengambil foto atau pun video. Rumah adat di desa ini berbentuk panggung dan harus menghadap selatan, hal ini disebabkan masyarakat suku Baduy masih memegang keyakinan sunda wiwitan, itulah kiblat rumah mereka.

Related Posts