Sianida Pembawa Berkah

Saat mendengar kata “mengandung sianida” hidrogen sianida (HCN) semua orang pasti takut menyentuhnya apalagi mengkonsumsinya, tetapi tidak demikian dengan masyarakat di Kepulauan Kei, mereka hampir sehari-hari bergulat mengolah bahan makanan yang “mengandung sianida” tadi bahkan sampai dengan mengkonsumsinya menjadi panganan pokok, serta mengemasnya menjadi makanan yang dapat dijual dan dijadikan oleh-oleh wisatawan saat berkunjung ke Pulau Kei.

Sebenarnya apa sih yang mengandung HCN dan dikonsumsi masyarakat Kei.?

Masyarakat Kei menyebutnya dengan Enbal, yaitu makanan berbahan dasar singkong kalau anak Jakarta bilang atau di Indonesia Timur biasa disebut juga kasbi, singkong-singkong yang tumbuh di Kepulauan Kei banyak yang beracun atau yang mengandung HCN tadi, untuk membedakan singkong beracun rupanya sangat mudah yaitu dengan melihat daunnya yang warnanya lebih tua dari singkong biasanya dan daun mudanya bewarna ungu tua, sedangkan tangkai daunnya bewarna lebih muda atau cenderung hijau bercampur merah tetapi sebaliknya yang tidak beracun tangkai daunnya justru bewarna lebih tua ungu kemerah-merahan, nah kalau mau bedanya yang lebih nyata bisa langsung di cobain dalam kondisi mentah berani ? 😀

Masyarakat Kei lebih memilih makan enbal dari pada nasi karena kalau makan nasi itu tidak mengenyangkan katanya, pada saat musim panen sangat banyak jenis dan aneka olahan dari enbal ini bisa bertahan lama dari berbulan-bulan hingga bertahun-tahun yang bahkan tidak akan terkena jamur, jadi terjawab sudah mengapa jenis tanaman ini bisa sampai menjadi makanan pokok selain bahan pangan lainnya seperti sagu.

Banyak olahan yang di hasilkan dari bahan singkong beracun atau tepung embal yang kaya serat dan karbohidrat, seperti enbal goreng, enbal kacang, enbal enbal hambar  sampai enbal berbagai rasa, yang biasanya dikonsumsi sehari-hari adalah Enbal Love atau Enbal berbentuk Hati, dan enbal ini biasa di makan bersama dengan sayur dan ikan laut sebagai pengganti nasi, bahkan enbal kacang enak dinikmati dengan kopi dan teh hangat.

Nah kesimpulannya tidak semua yang beracun itu mendatangkan musibah, tetapi justru di Kepulauan Kei justru yang beracun itu mendatangkan berkah, berkah bagi masyarakat karena memiliki cadangan bahan pokok makanan yang berlimpah, dan berkah bagi para pengolah atau penjual enbal yang menjadikan olehan tersebut oleh-oleh khas paling laris dari Pulau Kei.

Untuk mendapatkan makanan khas Pulau Kei tersebut cukup mudah, karna telah banyak dijual di pusat oleh-oleh didepan Pelabuhan Kota Tual, bahkan untuk mengetahui cara pengolahannya serta membelinya Anda dapat berkunjung ke rumah ibu Maria di Ohoi Loon di Kei Kecil.