Mendaki ‘Gunung Mendidih’ alias Danau Kelimutu

Pukul 3 pagi kami bergegas menuju Danau Kelimutu dari J-Hotel di Ende tempat kami menginap, menyusuri jalan yang gelap tanpa penerangan sepanjang jalan. Walau kiri jurang dan kanan tebing berbatu namun kami tak kawatir karena kendaraan tour yang membawa kami sangat mengenal jalur menuju Danau Kalimutu.

Pukul 5:30 pagi kami tiba di pintu masuk Danau Kelimutu dan disambut oleh hujan dan angin dingin. Dari pintu masuk menuju parkiran kendaraan tidak sampai 3 km. Kopi panas dan mie instan cukup menghangatkan tubuh yang kedinginan. Tak lama hujan pun mulai reda dan kami bergegas naik sambil berharap bisa melihat keindahan munculnya matahari pagi dibalik Danau Kelimutu.

danau kelimutu

Kami menyusuri jalan setapak sepanjang 1 km lebih, menaiki 236 anak tangga menuju puncak bukit. Sesampainya di tujuan, kami bersyukur dapat menyaksikan salah satu dari pesona keajaiban alam Indonesia. Ternyata benar bahwa momen tidak terlupakan adalah saat kita menyaksikan matahari terbit tepat di depan Danau Kelimutu, sangatlah indah.

Ternyata danau tiga warna ini memiliki kisah-kisah sejarah, cerita-cerita misteri, dan fenomena alam yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat sekitar maupun kejadian nasional. Beberapa foto perubahan warna pada setiap danau yang disertai tanggal dan tahun terpampang di depan danau. Saat kami berkunjung saat itu air danau tengah berwarna hijau, hijau, dan hitam.

danau kelimutudanau kelimutu

Selanjutnya kami pun mengunjungi Pesanggrahan Belanda yang tak jauh dari lokasi parkir. Dengan menuruni puluhan anak tangga kita dapat menyaksikan rumah peninggalan Belanda di kaki bukit Danau Kelimutu yang mana sejak zaman penjajahan sudah dijadikan tempat tinggal. Memang Danau Kelimutu kali pertama ditemukan oleh komandan militer Belanda bernama B. Van Suchtelen pada tahun 1915. Setelah tahun 1929 barulah Danau Kelimutu mulai diketahui banyak orang dikarenakan hasil tulisan dan lukisan Y. Bouman. Keindahan dan keunikan tiga warna dari danau ini tidak hanya menarik perhatian wisatawan, tapi juga peneliti yang merasa kurangnya literatur ilmiah tentang danau ini. Sementara bagi masyarakat sekitar Kelimutu, danau ini tidak lebih dari danau angker karena legenda masyarakat yang ada di kawasan tersebut.

danau kelimutu

Nama Kelimutu sendiri dipercaya adalah gabungan dari kata “keli” yang memiliki arti gunung, dan kata “mutu” yang berarti mendidih. Secara harfiah, Kelimutu dapat diartikan sebagai “gunung mendidih” dengan warna air yang berbeda-beda.

Tips & Info

Pemandangan paling indah terpampang di pagi hari dan usahakan sudah datang 1 jam sebelum matahari terbit. Bawalah jaket/mantel karena dingin dan kencangnya angin sekitar danau. Jika datang siang diperlukan topi untuk menghalau terik matahari. Sebaiknya memotret menggunakan lensa wide. Siapkan fisik prima karena pendakian ratusan anak tangga. Patuhi rambu-rambu yang ada di sepanjang area Taman Nasional Danau Kelimutu untuk keselamatan wisatawan.

Travel terdekat dari kota Ende menempuh waktu sekitar 2,5 jam perjalanan dengan harga Rp.500.000 s/d Rp.600.000 per hari per mobil (Xenia/Avanza) tergantung nego. Jika dari Maumere agak sedikit mahal berkisar Rp.700.000 s/d Rp.800.000. Tiket masuk untuk wisatawan lokal adalah Rp.5.000 (gratis bagi supir/petugas travel) dan tiket untuk kendaraan roda empat adalah Rp.10.000.

danau kelimutu