Makanan Tradisional Terpopuler 2018

1. Berondong Garing

Borondong garing merupakan salah satu makanan khas tradisional dari bumi Pasundan yang terbuat dari beras ketan atau jagung yang disangan dijadikan pop corn terlebih dahulu, kemudian dibersihkan dari cangkangnya terlebih dahulu, lalu campurkan dengan kinca gula merah atau kinca gula pasir dan dibentuk bulat-bulat atau persegi.

Ada dua jenis borondong yaitu borondong garing (borondong kering) dan borondong enten (sejenis wajik). Borondong garing dibuat dengan mencampur kinca dengan sangan jagung/ beras ketan dan kemudian dibentuk, sedangkan borondong enten dibuat dengan cara membuat enten terlebih dahulu dari beras ketan yang diolah dengan gula sehingga padu. Enten ketan dibentuk bulat-bulat lalu diselubungi dengan sangan jagung. Untuk menambah aroma pada borondong, dapat ditambahkan pewangi dari buah nanas atau buah mangga jenis kweni, akan terasa sangat nikmat jika Borondong disajikan bersama dengan teh hangat sebagai makanan ringan.

2. Gulai Ikan Semah (Kabupaten Kerinci)

Ikan semah merupakan ikon daerah wisata Kerinci yang dibuktikan dari setiap wisatawan yang berkunjung dipastikan akan mencari kuliner Gulai Ikan Semah.

Keberadaan ikan semah, ikan sungai air deras hanya ada di Kerinci yang memiliki nilai kelezatan rasa yang diakui oleh orang luar Kerinci sangat tinggi.

Ikan semah pada zaman dahulu dijadikan makanan para bangsawan dan para tamu pemimpin negeri dari luar yang memiliki cita rasa kelezatan luar biasa dan saat ini ikan semah dijual dengan harga yang sangat tinggi, bisa mencapai 5-10 kali lipat dari harga komoditas yang sama

Sementara dalam bentuk kuliner tersedia hampir disemua rumah makan dan restoran di Kabupaten Kerinci, mulai dari Muaro Imat hingga ke Kota Sungai Penuh, meskipun Harganya yang terbilang cukup tinggi rupanya tetap saja tidak menyurutkan niat para wisatawan untuk menyantap kedua kuliner yang merupakan ciri khas Kerinci tersebut.

3. Jagung Bose (Kota Kupang)

Makanan tradisional dari Nusa Tenggara Tiur yang dikenal dengan nama jagung bose ini menjadi makanan pokok sebagai pengganti nasi. Jagung bose hanya dibuat dari jagung putih yang biasanya memiliki rasa lebih manis daripada jagung kuning.

Sesuai dengan namanya, jagung bose memiliki arti jagung yang dibosekan atau dibuat lunak dengan melalui proses dari mengeluarkan kulit luar jagung, penumbukan menggunakan lesung, hingga pengayakan untuk memisahkan sisa kulit jagung yang sudah terkelupas. Setelah bersih, pada umumnya jagung bose dimasak bersama kacang merah. Guna menambah kelezatan dan cita rasa maka jagung bose dimasak menggunakan kayu bakar, kemudian tambahkan sedikit garam dan santan.

Masakan tradisional ini tentu tidak disajikan sendirian. Jagung bose dapat dimakan bersamaan dengan daging se’i Sapi, karmanaci (olahan daging sapi) dan lawar ikan (olahan ikan teri segar).

4. Juhu Singkah Uwei (Kota Palangkaraya)

Juhu singkah Uwei/Umbut Rotan merupakan makanan khas  yang berasal dari masyarakat suku Dayak yang dapat dijumpai di Kota Palangkaraya Kalimantan Tengah.

Kuliner yang berbahan dasar dari rotan muda ini diolah dengan cara rotan muda dibersihkan terlebih dahulu  dan kulitnya dibuang kemudian dipotong dalam ukuran kecil. Umbut rotan pada umumnya dimasak dengan ikan baung dan terong asam. Umbut Rotan memiliki citarasa tersendiri yaitu rasa gurih, asam, dan kepahit-pahitan yang bercampur dengan rasa manis dari daging ikan .

Pada umumnya yang kita ketahui bahwa rotan merupakan bahan dasar untuk membuat kerajinan, perabotan atau yang lainnya dan bukan di masak, namun ditangan masyarakat suku dayak rotan bisa diolah menjadi makanan yang sangat lezat.

5. Kerak Telor (Jakarta Selatan)

Kerak telor adalah salah satu makanan yang begitu identik dengan Ibu Kota Jakarta, makanan yang memiliki rasa gurih dan legit ini merupakan salah satu makanan khas kebanggaan warga Jakarta dan pada masa Kolonial Belanda, Kerak Telor yang terkenal lezat ini pernah menjadi salah satu makanan primadona di kota Jakarta yang dahulu bernama Batavia.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat dan menyajikannya, hanya membutuhkan waktu kurang dari 15 menit maka kita sudah dapat menyantap kerak telor hangat yang lezat. Cara memasak Kerak Telor ini memiliki keunikan tersendiri yaitu menggunakan anglo dan arang serta tanpa menggunakan minyak goreng, ketika telor masak setengah matang, maka wajan akan dibalik menghadap panasnya arang dan dibiarkan sehingga menjadi kerak. Setelah permukaan telor agak sedikit gosong, kerak telor diangkat dan diberi bumbu lalu siap dihidangkan. Cara memasak dengan anglo ini digunakan untuk menjaga rasa khas dari kerak telor yang gurih dan legit.

6. Kue Pare (Kabupaten Pasaman)

Kue Pare adalah kue basah yang terdiri dari dua bagian. Bagian isi terbuat dari kelapa dan gula merah dan bagian luar pembungkusnya seperti pare berwarna merah terbuat dari tepung ketan ditambah tepung beras. Kue ini berasal dari kecamatan Bonjol.

7.Kupang Lontong (Kabupaten Sidoarjo)

Lontong yang diguyur dengan kuah dan kupang (sejenis kerang kecil bercangkang yang biasa ditemukan di pesisir pantai) dan sebagai pelengkapnya di dalam Lontong Kupang terdapat Letho (campuran parutan singkong, kelapa dan kacang polong yang dibentuk bulat seperti perkedel)

Citarasa unik terasa menggelitik lidah saat suapan demi suapan Lontong Kupang singgah di mulut. Lembutnya kupang ditambah dengan perpaduan rasa manis, asin, dan pedas dari kuahnya, dijamin membuat semakin ketagihan apalagi saat menggigit Letho yang garing menambah kenikmatan tersendiri.

8. Martabak Sagu (Kabupaten Fakfak)Di Indonesia terdapat cukup banyak jenis martabak dengan keunikan tersendiri sesuai dengan daerahnya dan martabak yang satu ini berasal dari Kabupaten Fakfak Papua Barat namanya Martabak Sagu.

Martabak Sagu sangat lezat karena rasanya yang manis dan gurih. Martabak ini  diolah dari bahan dasar yaitu sagu yang sudah dihaluskan kemudian digoreng dan diberi gula aren atau merah dan menjadikan martabak ini berbeda dengan martabak yang sudah umum ditemui di daerah lain seperti martabak manis atau martabak telor dan hal yang paling membedakan adalah bahan dasarnya yaitu sagu.

9. Sinonggi (Kota Kendari)

Makanan khas dari Sulawesi Tenggara yang dikonsumsi sehari-hari khususnya oleh suku Tolaki dan kata Sinonggi diambil dari bahasa tolaki yang berarti Sagu.

Bahan dasar makanan sinonggi adalah sagu dan penyajian sinonggi dengan cara menyiram sagu dengan air panas kemudian diaduk dan ditempatkan secara terpisah dengan sayur dan lauknya, kemudian disatukan sesuai dengan selera.

Ikan yang sering dikonsumsi bersama dengan sinonggi pada umumnya adalah ikan putih, ikan cakalang, kerapu atau ikan lainya yang dimasak berkuah. Sedangkan sayurannya antara lain adalah bayam, kangkung, kacang panjang dan palola (terong kecil) dan yang paling khas adalah okra/kopi gandu (bahasa Tolaki) dan daun tawa huko-huko (melinjo), daun tawaoloho (kedondong).

10. Sop Tekalo (Kab. Penajam Paser Utara)

Sop Tekalo adalah sop iga dengan kuah bening yang memiliki rasa asam berbeda dikarenakan rasa asamnya yang didapat dari rasa asam buah yg banyak ditanam di tanah desa ini yaitu buah Tekalo.

Buah tekalo banyak ditanam di  dalam pekarangan rumah Warga dan rasa asamnya yang khas dan segar membuat sup iga yg disuguhkan memiliki cita rasa yang berbeda.