Mahkota dan Dawai Musik Rote

Usai menikmati beberapa pantai-pantai eksotis di Rote, kearifan budaya dan kesenian lokal yang sampai saat ini masih dilestarikan yakni alat musik Sasando dan Topi Ti’ilangga menjadi daya tarik yang asik untuk disambangi. Terletak di Desa Lalukoen, Dusun Lololin, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao ini seorang bapak setengah baya bernama Hance Pah, tetap melestarikan peninggalan leluhur-leluhur dahulu melalui kesenian dan kerajinan hasil rajutan tangan dari daun pepohonan Lontar.

Topi Ti’ilangga memang merupakan sebuah mahkota yang dipakai oleh petinggi-petinggi pemerintahan di zaman dahulu kala. Tetapi berjalannya waktu, topi Ti’ilangga mulai dijadikan sebagai souvenir khas Rote. Selain topi Ti’ilangga, alat musik Sasando dipercaya oleh seniman Sasando dan masyarakat sekitar sebagai cara interaksi antara manusia, leluhur dan alam semesta.

 

 

Daun-daun pohon lontar yang dijemur hingga kering dan mengeras, perlahan dibentuk terlekuk disatukan dengan potongan bilah bambu yang sudah dilukis lalu dipasang senar-senar yang ditentukan masing-masing panjangnya untuk menghasilkan dentingan nada yang berbeda satu dengan yang lainnya. Alunan-alunan merdu alat musik Sasando yang dulu hanya 12 senar berkembang menjadi 24 hingga 50 senar ini memang seakan membawa seseorang menemukan ketenangan jiwa dan pikiran. Di era modern ini, Sasando dipadukan dengan alat musik lainnya oleh para seniman Sasando untuk menghasilkan nada-nada indah untuk mengalunkan sebuah lagu.

 

 

Leave a Reply