Kampung Adat Terpopuler 2018

Kategori Kampung Adat API Award
  • Juara 1. Kampung Al Munawar — Kota Palembang
  • Juara 2. Gedung Batin — Kab. Way Kanan
  • Juara 3. Desa Kanekes — Kab. Lebak

Kampung adat, suatu tempat atau lingkungan yang memiliki dan juga masih mempertahankan adat istiadat, hukum, dan aturan yang telah ditetapkan oleh leluhur dari tempat tersebut.

Ada begitu banyak kampung adat di Indonesia. Berikut 10 nominasi “Kampung Adat Terpopuler 2018” menurut API Award.

  1. Balai Kaliki, Kab. Payahkumbuh
  2. Desa adat Praijing, Kab. Sumba Barat
  3. Desa Huaulu, Kab. Maluku Tengah
  4. Desa Kanekes, Kab. Lebak—Banten
  5. Desa Limbungan, Kab. Lombok Timur
  6. Desa Metun Sajau, Kab. Bulungan
  7. Desa Yokiwa, Kab. Jayapura
  8. Gedung Batin, Kab. Way Kanan
  9. Kampung Al Munawar, Kota Palembang
  10. Rumah Betang Ensaid Panjang, Kab. Sintang

01. Balai Kaliki

Payahkumbuh, Sumatera Barat

Perkampungan Tradisional Balai Kaliki di Kota Payakumbuh menjadi bukti nyata bahwa budaya, adat istiadat, Rumah Gadang dan Rangkiang yang masih sangat melekat di kampung ini.

VOTE APIaward

Ketik API (spasi) 9A
Kirim SMS ke 99386

Balai Kaliki sangat tepat disebut sebagai Perkampungan Tradisional karena Rumah Gadangnya masih terpelihara. Ditambah lagi dengan Rangkiangnya yang berjejer didepan rumah tersebut. Tidak hanya itu, adanya kesadaran masyarakat di Balai Kaliki mendirikan rumah adat baru untuk ditempati tergolong membanggakan.

Rumah Gadang sesuatu yang sakral dalam filosofi kehidupan masyarakat di Minangkabau. Rumah Gadang tempat bermulanya siklus kehidupan ketika lahir ke dunia. Silsilah persukuan di Ranah Minang menjelaskan bahwa setiap Rumah Merupakan merupakan induk dari silsilah keluarga dan suku. Rumah Gadang mempunyai halaman yang terbilang luas, pada salah satu sudut halaman depan Rumah Gadang terdapat sebuah bangunan rumah kecil yang disebut Rangkiang atau Lumbuang (lumbung) dengan bentuk atap (bagonjong) yang sama dengan Rumah Gadang.

Rangkiang mengandung filosofi bahwa kehidupan bukan hari ini saja, Rangkiang menjadi lambang hidup hemat dan kesiapan materi yang kokoh untuk kehidupan selanjutnya. Sebab Rangkiang yang didepan rumah gunanya menyimpan padi yang sudah di panen. Ditambah dengan menyimpan buah-buahan yang mungkin disimpan dalam waktu agak lama.

Balai Kaliki sangat kuat dalam memegang budaya, adat istiadat dan segala aspek yang berhubungan dengan tradisi Minangkabau. Acara-acara adat masih dipertahankan oleh masyarakat, pakaian adat pun juga dilestarikan dengan memakainya sekali seminggu pada hari Jum’at, membuat nuansa Minang dengan ciri khas Koto Nan Gadang sangat terasa kental di Balai Kaliki.

Back to top

02. Desa Adat Praijing

Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur

Terletak persis di atas Bukit Praijing, Kampung Adat Praijing adalah salah satu destinasi yang bisa jadi pilihan Anda ketika berlibur di Sumba.

VOTE APIaward

Ketik API (spasi) 9B
Kirim SMS ke 99386

Wisatawan akan melihat bangunan rumah yang khas, yaitu bentuk atap yang menjulang tinggi dan nuansa lingkungan pedesaan yang dapat menjadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Selama berada di Kampung Adat Praijing, para wisatawan dapat menyaksikan keseharian penduduk lokal, sambil mempelajari kebudayaan dan adat istiadatnya, memandangi hamparan areal persawahan yang membentang, dan melihat Kota Waikabubak, Ibu Kota Kabupaten Sumba Barat dari ketinggian.

Terdapat 38 rumah adat dengan sebutan masing-masing, ada rumah yang disebut Uma Bokulu yaitu rumah besar dan Uma Mbatangu yaitu rumah menara yang beratap menjulang seperti menara. Dalam sebuah rumah tradisional Sumba, isi rumah juga harus sesuai dengan aturan, bagian bawah rumah digunakan untuk hewan ternak, bagian tengah untuk penghuni, bagian atas berfungsi untuk menyimpan makanan dan benda-benda pusaka.

Untuk memasuki rumah tradisional Sumba pun tidak boleh sembarangan, karena terdapat dua buah pintu berbeda yang diperuntukkan khusus bagi laki-laki dan pintu bagi perempuan yang dibuat dari tiang berukir, jadi kepala rumah tangga dan ibu masuk dari pintu yang berlainan. Ruangan di dalam rumah juga dibedakan berdasar empat tiang penyangga menara. Ada tiang perempuan, yang letaknya dekat dengan ruang untuk ibu beraktivitas, ada pula tiang laki-laki tempat ayah dan pria lainnya berdiskusi.

Back to top

03. Desa Huaulu

Maluku Tengah, Maluku

Keunikan kampung ini, sebagian warga yang bekerja mencari uang dari berkebun adalah kaum wanita, sedangkan para pria biasanya berburu mencari bahan makanan untuk konsumsi keluarga mereka.

VOTE APIaward

Ketik API (spasi) 9C
Kirim SMS ke 99386

Di Wilayah Timur Indonesia, lebih tepatnya di bagian utara Pulau Seram Maluku, terdapat satu suku tua yang bernama Suku Huaulu. Ketika Memasuki wilayah desa, suasana sangat sepi sekali. Dikarenakan hampir 80 persen warga desa pergi bekerja. Mata pencaharian utama mereka adalah berkebun dan berburu. Pada umumnya hasil perkebunan mereka jual ke kota namun, uniknya sebagian warga yang bekerja mencari uang dari berkebun adalah kaum wanita, sedangkan para pria biasanya berburu mencari bahan makanan untuk konsumsi keluarga mereka.

Baileo adalah rumah adat Suku Huaulu yang menjadi tempat diadakannya pertemuan desa, pada masa lalu Suku Huaulu juga menjadikan Baileo ini sebagai tempat diadakannya upacara lain dan penentuan strategi perang sebelum mereka melawan kekuatan musuh.

Untuk mendirikan Baileo, Suku Huaulu harus mengadakan sebuah upacara adat dan konon salah satu ritualnya adalah menanam tengkorak manusia di tiap tiang penyangga Baileo yang berbentuk menyerupai rumah panggung ini. Namun, di masa modern ini tengkorak tidak lagi dijadikan properti upacara, mereka menggantinya dengan tempurung Kelapa.

Baileo merupakan tempat yang tidak hanya sakral bagi keberadaan suku, namun juga multifungsi diadakannya berbagai kegiatan desa. Suku Huaulu adalah suku asli Maluku yang sangat dihormati oleh seluruh penduduk Pulau Seram. Banyak yang menyebutkan bahwa mereka dahulu adalah kanibal, namun kenyataannya di masa modern ini mereka adalah pribadi yang ramah, senang bercanda dan sangat menghormati alam.

Suku Huaulu memang tidak terlalu terbuka terhadap perubahan modern, namun mereka sangat mencintai damai dan berusaha menerima siapapun yang ingin mengenal mereka lebih dekat lagi.

Back to top

04. Desa Kanekes

Kab. Lebak, Banten

Rumah adat di desa ini berbentuk panggung dan harus menghadap selatan, hal ini disebabkan masyarakat suku Baduy masih memegang keyakinan sunda wiwitan yang menjadi kiblat rumah mereka.

VOTE APIaward

Ketik API (spasi) 9D
Kirim SMS ke 99386

Berada di kaki pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten memiliki daya tarik yang masih kental dengan adat istiadat dan budayanya. Pemandangan alam yang masih asri dengan nuansa alam sejuk serta kehidupan masyarakatnya yang masih sangat kuat mempertahankan tradisi dan budaya menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi bagi para wisatawan pecinta petualangan.

Untuk menuju desa wisata Kanekes Banten dilakukan dengan berjalan kaki yang di pandu oleh pemandu lokal yang berasal dari masyarakat penduduk setempat, Jalan yang berliku, tanah dan batu menjadi alas jalan yang harus dilalui untuk mencapai kawasan desa wisata yang cukup dikenal oleh masyarakat luas bahkan dunia internasional sekalipun.

Leluhur Suku Baduy adalah orang yang sangat menjunjung tinggi adat dan mereka sangat sulit untuk menerima budaya modern, ciri khas orang Suku Baduy itu dapat terlihat dari setelan pakaian putih-putih dengan ikat kepala yang digunakan juga berwarna putih, ada juga sebagian yang berwarna hitam. Lokasi penduduk dan masyarakat di sini terbagi dua yaitu baduy luar dan Baduy dalam.

Di kawasan Baduy dalam wisatawan tidak diperkenankan untuk mengambil foto atau pun video. Rumah adat di desa ini berbentuk panggung dan harus menghadap selatan, hal ini disebabkan masyarakat suku Baduy masih memegang keyakinan sunda wiwitan yang menjadi kiblat rumah mereka.

Back to top

05. Desa Limbungan

Kab. Lombok Timur, Lombok

Terbuat dari anyaman bambu, beratapkan jerami dengan pondasi dari tanah dan terdapat sekitar 200 lebih rumah yang masih terjaga disini.

VOTE APIaward

Ketik API (spasi) 9E
Kirim SMS ke 99386

Limbungan adalah sebuah kampung yang terletak di Desa Perigi, Kecamatan Suela Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat yang terbagi menjadi dua bagian, yakni Limbungan Barat dan Limbungan Timur. Hal yang menarik dari desa ini adalah kehidupan serta rumah adatnya yang masih terjaga hingga sekarang. Terbuat dari anyaman bambu, beratapkan jerami dengan pondasi dari tanah dan terdapat sekitar 200 lebih rumah yang masih terjaga disini.

Rumah adat yang merupakan warisan budaya dari nenek moyang yang harus dipertahankan dan memiliki keunikan tersendiri yaitu bentuk dan ukurannya yang tidak pernah berubah hingga kini. Rumah Adat Limbungan telah ada sejak beratus-ratus tahun lalu. Bentuk dari rumah adat itu sendiri berawal dari suatu rumah yang bernama Bale Batu Maliq.

Bale artinya rumah, Maliq artinya Keramat. Bale Batu Maliq adalah rumah induk di tengah gunung yang diyakini keramat oleh masyarakat Limbungan. Bale Batu Maliq inilah yang menjadi cikal bakal dari seluruh rumah yang ada di Limbungan. Jika rumah tersebut rusak, masyarakat Limbungan Barat dan Timur akan bergotong royong (begawe) untuk memperbaiki Bale Batu Maliq karena dianggap sebagai sejarah dari rumah yang mereka tempati kini. Seburuk apapun kondisi Bale Batu Maliq yang akan di perbaiki, harus diselesaikan dalam waktu 1 x 24jam. Jika tidak maka akan ada kesialan yang menimpa masyarakat Limbungan.

Untuk menjaga kelestarian di lingkungan rumah adat, tokoh adat dan juga pemerintah melarang membangun rumah permanen. Dalam hal ini selain tokoh adat, pemerintah juga punya peranan penting dalam menjaga dan melestarikan rumah adat Limbungan ini. Pemerintah boleh merenovasi mana yang dianggap rapuh asal tidak merubah bentuk dan ukurannya.

Back to top

06. Desa Metun Sajau

Kab. Bulungan, Kalimantan Utara

Saat akan dibentuk menjadi sebuah desa, nama Sajau ditambah lagi dengan kata Metun. Metun sendiri diambil dari bahasa Dayak, yang artinya menginjak.

VOTE APIaward

Ketik API (spasi) 9F
Kirim SMS ke 99386

Desa Sajau Metun merupakan salah satu dari delapan desa yang ada di Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Saat memasuki desa yang mayoritas penduduknya beretnik Dayak Kenya atau Dayak Kayan, wisatawan akan disajikan dengan indahnya beraneka ragam motif yang tersaji dari sebuah budaya tradisional yang tetap lestari dan terus terjaga hingga kini.

Sebuah gerbang besar yang penuh dengan ukiran warna-warni khas Suku Dayak seolah menyambut tamu yang istimewa saat wisatawan berbelok dari jalan poros Tanjung Selor ke arah Tanah Kuning. Pandangan wisatawan akan langsung mengarah pada sebuah bangunan lamin (rumah panjang) bernama Lu’ung Jalung yang kaya akan motif khas Suku Dayak Kenya Lepo’ Bakung, seolah menjadi pemikat bagi siapapun saat mengunjungi lamin tersebut. Terdapat sebuah menara setinggi 20-an meter yang juga penuh ukiran dengan patung seorang tokoh pada puncaknya dan tepat disamping kiri menara tersebut berdiri sebuah patung tokoh lainnya.

Pada masa lalu, rumah lamin bagi masyarakat Suku Dayak sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial masyarakatnya, di dalam rumah lamin kita dapat menangkap denyut kehidupan masyarakat Suku Dayak yang didiami oleh puluhan keluarga dalam sebuah kelompok masyarakat. Kini dengan perubahan-perubahan yang terjadi, fungsi rumah panjang pun berubah dan menjadi pusat ritual adat bagi masyarakat Suku Dayak termasuk pementasan seni budaya masyarakatnya.

Penghuni Desa Metun Sajau adalah orang-orang yang datang berasal dari daerah Kabupaten Malinau. Berpindah ke Metun Sajau, berkegiatan pertanian, membentuk pemukiman. Sebelum terbentuk sebuah desa, daerah ini dahulu sering disebut-sebut daerah Sajau. Saat akan dibentuk menjadi sebuah desa, nama Sajau ditambah lagi dengan kata Metun. Metun sendiri diambil dari bahasa Dayak, yang artinya menginjak. Kami datang ke Sajau. Makanya kami beri nama Metun Sajau atau Menginjak Sajau yang kini dihuni oleh kurang lebih 1400 jiwa.

Back to top

07. Desa Yokiwa

Kab. Jayapura, Papua

Kampung Yokiwa memiliki peraturan kampung yang wajib ditaati tiap warganya yaitu bagaimana bersama-sama membangun ketahanan pangan yang mandiri.

VOTE APIaward

Ketik API (spasi) 9G
Kirim SMS ke 99386

Yokiwa adalah salah satu kampung di Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, Indonesia yang memiliki peraturan kampung untuk mewujudkan ketahanan pangan yang mandiri. Untuk bangkit dari keterbelakangan dan keterpurukan memang dibutuhkan langkah bijak dan berani. Inilah yang sudah dilakukan Kampung Yokiwa, salah satu kampung yang terletak di daerah pinggiran danau Sentani, Kabupaten Jayapura yang dapat dikatakan sukses dalam memberdayakan masyarakatnya untuk maju dan terus berkembang.

Salah satu kelebihan di Kampung Yokiwa ini adalah memiliki peraturan kampung yang wajib ditaati tiap warganya yaitu bagaimana bersama-sama membangun ketahanan pangan yang mandiri. Konsep ini tujuannya adalah selain membangun dari sisi kesejahteraan (ekonomi) tetapi juga bagaimana membuat anak-anak dan keluarga tetap sehat. Dapat terlihat bahwa di kampung ini tidak ada yang kelaparan apalagi terkena gizi buruk, sakit parah juga hampir tidak ada, itu karena masyarakat cukup sadar akan pentingnya ketahanan pangan.

Hal ini diwujudkan dengan kegiatan pembudidayaan tanaman Kakao Dengan total lahan sebesar 300 hektar, setiap kepala keluarga diberi kesempatan untuk mengolah lahan 2 hektar dan sisa lahan digunakan untuk lokasi peternakan sapi.

Hasil panen memang cukup lumayan, dimana tiap bulannya jika memperoleh hasil yang baik maka dalam 30 hari warga bisa memperoleh 100 Kg kakao kering. Harga jual kakao kering saat ini jika kadar airnya 7 persen maka bisa dijual sekitar Rp 17-20 ribu/Kg. Sedangkan jika kadar airnya mencapai 8 persen harga jualnya Rp 14-15 ribu/Kg. Dalam 1 bulan jika hasilnya baik maka dari 2 hektar tadi masyarakat bisa mengantongi uang Rp 7 juta.

Back to top

08. Gedung Batin

Kab. Way Kanan, Lampung

Penduduk yang menetap di tepian sungai Way Besay ini merupakan cikal bakal berkembangnya Kabupaten Way Kanan.

VOTE APIaward

Ketik API (spasi) 9H
Kirim SMS ke 99386

Gedung Batin adalah sebuah kampung yang berada di wilayah Kecamatan Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Kampung yang berjarak 22 km dari Ibukota Kabupaten ini merupakan kampung wisata dengan sejumlah bangunan tua berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu yang konon berusia lebih dari 400 tahun.

Menurut catatan sejarah, bahwa Desa Gedung Batin merupakan salah satu desa tertua di Lampung. Penduduk yang menetap di tepian sungai Way Besay ini merupakan cikal bakal berkembangnya Kabupaten Way Kanan. Kehidupan mereka tidak bisa terlepas dari keberadaan dan fungsi sungai ini. Masyarakat terbiasa menggunakan rakit bambu, menelusuri sungai, untuk mengangkut dan memperdagangkan hasil bumi, seperti lada, cengkeh, kopi dan karet, sebagai salah satu sumber nafkah asli masyarakat setempat.

Kesadaran untuk melestarikan peninggalan sejarah pun mulai dibangkitkan. Karena wisata sejarah dapat dijadikan sebagai salah satu opsi sumber pendapatan daerah. Terdapat 8 unit rumah tua yang masih berdiri tegak yang dibangun di atas gelondongan kayu yang kokoh, rumah-rumah ini membawa ciri khas rumah panggung Lampung.

Menurut catatan bahwa rumah tertua dibangun tahun 1741 dengan arsitektur tradisional Lampung. Di dalam rumah masih tersimpan perabotan antik, peralatan rumah tangga kuno, perangkat adat dan budaya Lampung. Pada salah satu rumah terlihat rangkaian huruf/tulisan Cina yang terukir dengan rapih di kayu penyanggahnya.

Jejak ini seperti mengarahkan kita bahwa dalam suatu waktu memang ada keterlibatan orang Cina (kemungkinan besar adalah pedagang) yang tinggal dan membantu masyarakat setempat dalam membangun tempat tinggal. Disini juga terdapat sebuah kuburan tua dengan nisan yang menyerupai kubah lancip berukuran kecil. Angka 1305 dan nama Siti Fatimah pun terukir diatas nisan ini.

Back to top

09. Kampung Al Munawar

Kota Palembang, Sumatera Selatan

Kampung Al Munawar merupakan Kampung pemukiman Arab pertama di Palembang atau sering disebut Kampong Arab.

VOTE APIaward

Ketik API (spasi) 9I
Kirim SMS ke 99386

Kampung bersejarah di Palembang, salah satunya yaitu Kampung Al Munawar yang merupakan Kampung pemukiman Arab pertama di Palembang atau sering disebut Kampong Arab, terletak di daerah 13 Ulu, sering disebut juga dengan nama Kampong 13 Ulu atau Kampong Arab 13 Ulu.

Istilah nama daerah Ulu dan Ilir sering terdengar bila kita berada di Palembang dan Jembatan Ampera yang dijadikan sebagai titik tengahnya, untuk bagian hulu Sungai Musi disebut Ulu dan Ilir untuk bagian dari hilir sungai.

Kampung yang terletak di tepi sungai Musi ini, memiliki sejumlah cerita di dalamnya. Untuk mencapai kampung ini, ada dua jalur yang dapat dilewati yakni menggunakan perahu getek atau perahu masyarakat yang bisa disewa sambil menikmati semeriwingin angin dan suasana sungai Musi atau dengan menggunakan jalur darat.

Konon sekitar 300 tahun yang lalu ada seorang saudagar kaya dari Yaman, Habib Abdurrahman Al Munawar, Ia berdagang dari melalui jalur Gujarat, lalu ke Singapura, Malaysia lalu ke Bangka Belitung hingga sampai ke Palembang dan kini Kampung ini sendiri memilki 64 kepala keluarga yang berisi empat hingga lima kepala keluarga di dalam satu rumah.

Saat ini sudah sampai keturunan ke delapan yang sudah menetap di kampung ini. Keunikan lain dari kampung ini yaitu rumah-rumah tua yang berumur 200 tahun bahkan ada yang berumur 300 tahun dengan berbagai jenis rumah seperti Rumah Kembar Laut, Rumah Kembar Darat, Rumah Tinggi atau Rumah Gudang, Rumah Limas, Rumah Madrasah, Rumah Kaca, Rumah Indis dan Rumah Kapiten Arab. Para wisatawan dapat berfoto-foto dengan latar belakang rumah penduduk asli Kampung Arab. Warnanya yang cerah, serta dekorasi rumah yang unik pun menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Back to top

10. Rumah Betang Ensaid Panjang

Kab. Sintang, Kalimantan Barat

Banyak wisatawan atau peneliti asing yang tinggal lama di rumah betang untuk dapat mengikuti keseharian masyarakat adat ini.

VOTE APIaward

Ketik API (spasi) 9J
Kirim SMS ke 99386

Suku Dayak di Desa di Ensaid Panjang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, hingga saat ini masih mempertahankan tradisi turun-temurun dengan tinggal di satu rumah besar yang disebut rumah betang.

Berlatar belakang Gunung Rentap, Rumah Betang Ensaid Panjang berdiri kokoh, arsitekturnya sederhana, coraknya menampilkan nuansa yang menyatu dengan alam. Hampir semua bahan bangunannya berasal dari alam.

Konon Sudah sekian kali rumah betang itu dipindahkan dari tempatnya semula sejak masyarakat adat Dayak Desa menetap di Ensaid Panjang sekitar 200 tahun yang lalu. Warga penghuni rumah betang yang paling tua sudah mengalami perpindahan selama enam kali. Rumah betang biasanya dipindah karena sebagian struktur bangunan sudah rapuh. Terakhir kali dipindahkan sekitar 100m dari tempatnya semula di tahun 1981.

Ensaid Panjang berjarak sekitar 60 km dari ibu kota Kabupaten Sintang. Disini wisatawan dapat tinggal di Rumah Betang Ensaid Panjang dan merasakan keseharian warga adat Dayak Desa. Pengurus adat tidak menetapkan tarif bagi wisatawan yang ingin tinggal di rumah betang. Kami tidak memiliki budaya memungut bayaran dan sampai saat ini tradisi itu masih dijaga.

Kehangatan sambutan warga itulah yang menjadi magnet wisatawan asing. Banyak wisatawan atau peneliti asing yang tinggal lama di rumah betang untuk dapat mengikuti keseharian masyarakat adat itu. Wisatawan juga masih bisa menyaksikan pembuatan kain tenun secara tradisional atau membelinya langsung dari harga Rp.30.000 hingga Rp 1 juta per lembar tergantung dari ukuran. Sejumlah ibu hingga kini masih aktif menenun mewarisi kemampuan nenek moyangnya.

Back to top