Inilah 5 Cendera Mata yang Terpopuler di 2018

Kalau jalan-jalan biasanya udah menjadi kaharusan tuk cari oleh-oleh, dan oleh-oleh yang kita banyak cari selain makanan atau jajanan ya pastinya souvenir atau cendera mata. Nah inilah 5 (lima)  cendera mata yang terpopuler dalam Anugerah Pesona Indonesia 2018, sesuai dari urutan pertama hingga kelima, yuk kita tengok.. 

Tanjak – Prov. Riau : Tanjak yang merupakan tutup kepala khas Melayu Riau dengan filosofinya atau seperti blangkon pada masyarakat Jawa, yang kini kian dikenal warga Riau hingga nusantara. Tanjak adalah kain yang dililitkan di kepala kaum pria di bumi Melayu, bentuk Tanjak bisa beragam, seni melilitkannya pun juga cukup variatif. Tanjak dianggap sebagai lambang kewibawaan di kalangan masyarakat Melayu. Semakin tinggi dan kompleks bentuknya, menunjukkan semakin tinggi pula status sosial si pemakainya. Tanjak biasa dipakai masyarakat Melayu di seluruh lapisan kelas sosial, baik di lingkungan kerajaan sebagai kalangan bangsawan maupun pada lapisan masyarakat kelas bawah.

Kini di Riau juga terdapat komunitas Tanjak dengan anggotanya yang sebagian besar dari kalangan anak muda. Mereka mempopulerkan kembali penggunaan Tanjak ini sebagai identitas kaum pria di Bumi Melayu.

sentra kerajinan Bantul

Bambu Munthuk – Kab. Bantul : Desa Muntuk berada di daerah dataran tinggi sebelah timur Kabupaten Bantul yang terkenal sebagai desa pengrajin bambu. Barang kerajinan anyaman bambu dari desa Munthuk, Kabupaten Bantul, telah merambah pasar hingga ke luar negeri. Masyarakat Desa Muntuk sebagian besar bermata pencaharian sebagai pengrajin bambu yang merupakan salah satu industri kreatif dari Yogyakarta dan memiliki nilai seni dan budaya yang tinggi.

. Desa ini berdekatan dengan destinasi wisata hutan pinus imogiri. Potensi lain yang juga menjadi unggulan di desa wisata ini adalah potensi keindahan alam berupa bukit dan air terjun banyunibo yang terletak di sisi timur desa wisata muntuk. Selain itu wisatawan dapat juga melihat bentangan pemandangan alam di bawah bukit desa tersebut dan menyaksikan indahnya sunrise di pagi hari.

Payung Geulis from Viva.com

Payung Geulis – Kota Tasikmalaya : Salah satu produk yang terkenal dari Tasikmalaya adalah Payung Geulis yang  terbuat dari bambu/kayu dan kertas, bukan seperti payung pada umumnya yang terbuat dari besi dan plastik. Payung Geulis memiliki arti payung cantik yang memiliki nilai estetis serta sekaligus dapat berfungsi sebagai alat pelindung dari hujan dan panas serta memiliki ciri khas warna yang mencolok dan ornamen yang menonjolkan keindahan dengan motif yang menjadi andalan adalah bunga. Pada umumnya terdapat dua motif Payung Geulis yaitu motif hias geometris berbentuk bangun seperti garis lurus, lengkung dan patah-patah dan motif hias non geometris diambil dari bentuk alam seperti manusia, hewan dan bunga/tanaman. Seiring perkembangan dan permintaan pasar saat ini motif lukisan mulai dipadukan dan dikembangkan dengan lukisan cat minyak, batik atau bordir. Semua proses pembuatan payung geulis dibuat secara manual dengan buatan tangan/handmade kecuali gagang payung dibuat dengan menggunakan mesin.

Pusat kerajinan Payung Geulis terletak di Desa Panyingkiran, Indihiyang, kota Tasikmalaya dimana pada masa keemasan payung geulis hampir semua warga di daerah Panyingkiran memproduksi kerajinan yang telah ada sejak zaman Belanda ini, namun masa keemasan itu berangsur surut setelah payung buatan pabrikan dari luar negeri masuk ke Indonesia sekitar tahun 1968, sehingga berdampak pada hancurnya usaha kerajinan payung geulis di Tasikmalaya. Usaha kerajinan ini mulai bersinar kembali pada era 1980-an dan kini Payung Geulis Tasikmalaya hanya digunakan saat upacara adat atau dijadikan sebagai hiasan, souvenir dan cindera mata.

Tenun Ulap Doyo – Kab. Kutai Kartanegara : Tenun Ulap Doyo adalah salah satu produk tekstil tradisional di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kain tenun ini menjadi semacam identitas bagi Suku Dayak Benuaq. Bahan baku, proses pembuatan dan motif yang spesifik dari tenun ini merupakan warisan budaya yang tak ternilai dari masyarakat Dayak Benuaq. Proses pembuatan tenun ulap doyo diwariskan secara turun temurun melalui suatu proses yang unik. Kaum wanita Dayak Benuaq mulai menguasai proses pembuatan tenun ini sejak usia belasan tahun secara otodidak, tanpa melewati proses latihan, hanya dengan melihat proses kerja para wanita yang lebih tua seperti ibu dan sesepuh mereka secara berulang-ulang. Ulap Doyo adalah jenis tenun ikat berbahan serat daun doyo (Curliglia latifolia) yang berasal dari tanaman sejenis pandan, berserat kuat dan tumbuh secara liar di pedalaman Kalimantan. Untuk dapat digunakan sebagai bahan baku tenun, maka daun ini harus dikeringkan dan disayat mengikuti arah serat daun hingga menjadi serat yang halus. Serat-serat ini kemudian dijalin dan dilinting sampai menjadi bentuk benang kasar, kemudian benang daun doyo diberi warna menggunakan pewarna alami dari tumbuhan. Warna yang ditemukan biasanya adalah merah dan cokelat. Warna merah berasal dari buah glinggam, kayu oter, dan buah londo. Adapun warna cokelat diperoleh dari kayu uwar.

Sebagian besar motif pada kain ulap doyo terinspirasi dari flora dan fauna yang hidup di tepian Sungai Mahakam, ada juga  tema peperangan antara manusia dengan naga. Motif yang terdapat pada kain pun menjadi identitas si pemakai. Motif waniq ngelukng, misalnya, yang digunakan oleh masyarakat biasa, sedangkan motif jaunt nguku digunakan kalangan bangsawan atau raja. Pembedaan strata sosial ini mengindikasikan adanya sistem kasta yang berlaku dalam masyarakat, seperti yang terdapat pada Hindu.

Kupiah Meukeutop – Kota Banda Aceh : Kupiah Meukeutop adalah Topi Tradisional Adat Aceh, biasanya digunakan sebagai pelengkap pakaian adat yang dikenakan kaum pria. Digunakan saat upacara adat maupun seremonial lainnya. Kupiah Meukeutop terbuat dari kain berwarna dasar merah dan kuning. Kain dirajut jadi satu, berbentuk lingkaran. Pinggiran bawah kupiah, terdapat motif anyaman dikombinasikan warna hitam, hijau, merah dan kuning. Anyaman serupa terdapat di bagian tengah, yang dibatasi lingkaran kain hijau di atasnya dan kain hitam di bawah. Pada lingkaran kepala bagian bawah, terdapat motif yang lebih dominan menyerupai “LAM” pada huruf hijaiyah, namun ada garis yang menyambung antara bagian bawah dan atas motif tersebut. Motif yang sama juga terdapat di lingkaran kepala bagian atas, hanya saja ukurannya lebih kecil. Di bagian paling atas terdapat rajutan benang putih sebagai alas mahkota kuning emas bertingkat tiga.

Warna yang digunakan memiliki makna tersendiri. Merah melambangkan kepahlawanan, kuning berarti kerajaan atau negara, hijau menandakan agama, hitam berarti ketegasan atau ketetapan hati, sementara putih bermakna kesucian atau keikhlasan. Secara keseluruhan Kupiah Meukeutop terbagi empat bagian. Tiap bagian ini juga memiliki arti tersendiri, bagian pertama bermakna hukum, bagian kedua, bermakna adat, bagian ketiga bermakna kanun dan bagian keempat bermakna reusam. Secara umum bentuk dan motif kupiah meukeutop sama, hanya warna kain songket untuk membalut lingkaran kupiah saja yang berbeda yang biasanya disesuaikan dengan warna songket pada pakaian. Kupiah Meukeutop tidak hanya bernilai dari segi adat, tapi juga penuh dengan nilai sejarah. Secara historis Kupiah Meukeutop lebih diindentikkan dengan topi kebesaran yang sering digunakan oleh Teuku Umar, pahlawan nasional asal Aceh.