Desa Adat Paling Populer di 2018

Kampung Al Munawar – Kota Palembang : Kampung bersejarah di Palembang, salah satunya yaitu Kampung Al Munawar yang merupakan Kampung pemukiman Arab pertama di Palembang atau sering disebut Kampong Arab, terletak di daerah 13 Ulu, sering disebut juga dengan nama Kampong 13 Ulu atau Kampong Arab 13 Ulu. Istilah nama daerah Ulu dan Ilir sering terdengar bila kita berada di Palembang dan Jembatan Ampera yang dijadikan sebagai titik tengahnya, untuk bagian hulu Sungai Musi disebut Ulu dan Ilir untuk bagian dari hilir sungai. Kampung yang terletak di tepi sungai Musi ini, memiliki sejumlah cerita di dalamnya. Untuk mencapai kampung ini, ada dua jalur yang dapat dilewati yakni menggunakan perahu getek atau perahu masyarakat yang bisa disewa sambil menikmati semeriwingin angin dan suasana sungai Musi atau dengan menggunakan jalur darat.

Konon sekitar 300 tahun yang lalu ada seorang saudagar kaya dari Yaman, Habib Abdurrahman Al Munawar, Ia berdagang dari melalui jalur Gujarat, lalu ke Singapura, Malaysia lalu ke Bangka Belitung hingga sampai ke Palembang dan kini Kampung ini sendiri memilki 64 kepala keluarga yang berisi empat hingga lima kepala keluarga di dalam satu rumah. Saat ini sudah sampai keturunan ke delapan yang sudah menetap di kampung ini. Keunikan lain dari kampung ini yaitu rumah-rumah tua yang berumur 200 tahun bahkan ada yang berumur 300 tahun dengan berbagai jenis rumah seperti Rumah Kembar Laut, Rumah Kembar Darat, Rumah Tinggi atau Rumah Gudang, Rumah Limas, Rumah Madrasah, Rumah Kaca, Rumah Indis dan Rumah Kapiten Arab. Para wisatawan dapat berfoto-foto dengan latar belakang rumah penduduk asli Kampung Arab. Warnanya yang cerah, serta dekorasi rumah yang unik pun menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Gedung batin by Wijatnika Ika

Gedung Batin – Kab. Way Kanan : Gedung Batin adalah sebuah kampung yang berada di wilayah Kecamatan Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Kampung yang berjarak 22 km dari Ibukota Kabupaten ini merupakan kampung wisata dengan sejumlah bangunan tua berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu yang konon berusia lebih dari 400 tahun.

Menurut catatan sejarah, bahwa Desa Gedung Batin merupakan salah satu desa tertua di Lampung.  Penduduk yang menetap di tepian sungai Way Besay ini merupakan cikal bakal berkembangnya Kabupaten Way Kanan.  Kehidupan mereka tidak bisa terlepas dari keberadaan dan fungsi sungai ini.  Masyarakat terbiasa menggunakan rakit bambu, menelusuri sungai, untuk mengangkut dan memperdagangkan hasil bumi, seperti lada, cengkeh, kopi dan karet, sebagai salah satu sumber nafkah asli masyarakat setempat.

Kesadaran untuk melestarikan peninggalan sejarah pun mulai dibangkitkan. Karena wisata sejarah dapat dijadikan sebagai salah satu opsi sumber pendapatan daerah.  Terdapat 8 unit rumah tua yang masih berdiri tegak yang  dibangun di atas gelondongan kayu yang kokoh, rumah-rumah ini membawa ciri khas rumah panggung Lampung. Menurut catatan bahwa rumah tertua dibangun tahun 1741 dengan arsitektur tradisional Lampung. Di dalam rumah masih tersimpan perabotan antik, peralatan rumah tangga kuno, perangkat adat dan budaya Lampung. Pada salah satu rumah terlihat rangkaian huruf/tulisan Cina yang terukir dengan rapih di kayu penyanggahnya.  Jejak ini seperti mengarahkan kita bahwa dalam suatu waktu memang ada keterlibatan orang Cina (kemungkinan besar adalah pedagang) yang tinggal dan membantu masyarakat setempat dalam membangun tempat tinggal. Disini juga terdapat sebuah kuburan tua dengan nisan yang menyerupai kubah lancip berukuran kecil.  Angka 1305 dan nama Siti Fatimah pun terukir diatas nisan ini.

Suku Baduy by Trip Santai

Desa Kanekes – Kab. Lebak : Lokasi Desa Kanekes berada di kaki pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten memiliki daya tarik yang masih kental dengan adat istiadat dan budayanya. Pemandangan alam yang masih asri dengan nuansa alam sejuk serta kehidupan masyarakatnya yang masih sangat kuat mempertahankan tradisi dan budaya menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi bagi para wisatawan pecinta petualangan. Menuju desa wisata Kanekes Banten dilakukan dengan berjalan kaki yang di pandu oleh pemandu lokal yang berasal dari masyarakat penduduk setempat, Jalan yang berliku, tanah dan batu menjadi alas jalan yang harus dilalui untuk mencapai kawasan desa wisata yang cukup dikenal oleh masyarakat luas bahkan dunia internasional sekalipun.

Leluhur Suku Baduy adalah orang yang sangat menjunjung tinggi adat dan mereka sangat sulit untuk menerima budaya modern, ciri khas orang Suku Baduy itu dapat terlihat dari  setelan pakaian putih-putih dengan ikat kepala yang digunakan juga berwarna putih, ada juga sebagian yang berwarna hitam. Lokasi penduduk dan masyarakat di sini terbagi dua yaitu baduy luar dan Baduy dalam. Di kawasan Baduy dalam wisatawan tidak diperkenankan untuk mengambil foto atau pun video. Rumah adat di desa ini berbentuk panggung dan harus menghadap selatan, hal ini disebabkan masyarakat suku Baduy masih memegang keyakinan sunda wiwitan, itulah kiblat rumah mereka.

Sumba by sorayashinta

Desa Adat Praijing – Kab. Sumba Barat : Salah satu desa adat yang bisa jadi pilihan Anda ketika berlibur di Sumba ialah Kampung Adat Praijing yang berada di Desa Tebara, Kecamatan Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan terletak persis di atas Bukit Praijing. Wisatawan akan melihat bangunan rumah yang khas, yaitu bentuk atap yang menjulang tinggi dan nuansa lingkungan pedesaannya yang dapat menjadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Selama berada di Kampung Adat Praijing, para wisatawan dapat menyaksikan keseharian penduduk lokal, sambil mempelajari kebudayaan dan adat istiadatnya, memandangi hamparan areal persawahan yang membentang, dan melihat Kota Waikabubak, Ibu Kota Kabupaten Sumba Barat dari ketinggian.

Terdapat 38 rumah adat dengan sebutan masing-masing, ada rumah yang disebut Uma Bokulu yaitu rumah besar dan Uma Mbatangu yaitu rumah menara yang beratap menjulang seperti menara. Dalam sebuah rumah tradisional Sumba, isi rumah juga harus sesuai dengan aturan, bagian bawah rumah digunakan untuk hewan ternak, bagian tengah untuk penghuni, bagian atas berfungsi untuk menyimpan makanan dan benda-benda pusaka. Untuk memasuki rumah tradisional Sumba pun tidak boleh sembarangan, karena terdapat dua buah pintu berbeda yang diperuntukkan khusus bagi laki-laki dan pintu bagi perempuan yang dibuat dari tiang berukir, jadi kepala rumah tangga dan ibu masuk dari pintu yang berlainan. Ruangan di dalam rumah juga dibedakan berdasar empat tiang penyangga menara. Ada tiang perempuan, yang letaknya dekat dengan ruang untuk ibu beraktivitas, ada pula tiang laki-laki tempat ayah dan pria lainnya berdiskusi.

Balai Kaliki – Kota Payakumbuh : Perkampungan Tradisional Balai Kaliki di Kota Payakumbuh menjadi bukti nyata bahwa budaya, adat istiadat, Rumah Gadang dan Rangkiang yang masih sangat melekat di kampung ini. Balai Kaliki sangat tepat disebut sebagai Perkampungan Tradisional karena Rumah Gadangnya masih terpelihara. Ditambah lagi dengan Rangkiangnya yang berjejer didepan rumah tersebut. Tidak hanya itu, adanya kesadaran masyarakat di Balai Kaliki mendirikan rumah adat baru untuk ditempati tergolong membanggakan. Rumah Gadang sesuatu yang sakral dalam filosofi kehidupan masyarakat di Minangkabau. Rumah Gadang tempat bermulanya siklus kehidupan ketika lahir ke dunia. Silsilah persukuan di Ranah Minang menjelaskan bahwa setiap Rumah Merupakan merupakan induk dari silsilah keluarga dan suku. Rumah Gadang mempunyai halaman yang terbilang luas, pada salah satu sudut halaman depan Rumah Gadang terdapat sebuah bangunan rumah kecil yang disebut Rangkiang atau Lumbuang (lumbung) dengan bentuk atap (bagonjong) yang sama dengan Rumah Gadang. Rangkiang mengandung filosofi bahwa kehidupan bukan hari ini saja, Rangkiang menjadi lambang hidup hemat dan kesiapan materi yang kokoh untuk kehidupan selanjutnya. Sebab Rangkiang yang didepan rumah gunanya menyimpan padi yang sudah di panen. Ditambah dengan menyimpan buah-buahan yang mungkin disimpan dalam waktu agak lama.

Balai Kaliki sangat kuat dalam memegang budaya, adat istiadat dan segala aspek yang berhubungan dengan tradisi Minangkabau. Acara-acara adat masih dipertahankan oleh masyarakat, pakaian adat pun juga dilestarikan dengan memakainya sekali seminggu pada hari Jum’at, membuat nuansa Minang dengan ciri khas Koto Nan Gadang sangat terasa kental di Balai Kaliki.