Berselancar di Ombak Emas Pulau Rote

Angin yang bertiup sedikit kencang di bulan ini tampaknya menyambut para wisatawan yang tiba di bandara El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Wajah-wajah asing berkulit putih berambut pirang tengah menunggu barang-barangnya di baggage lounge. Satu per satu koper, tas dan papan selancar berjalan keluar dari baggage conveyor untuk diambil oleh para pemiliknya. Supir-supir yang menjemput kedatangan para wisatawan menyapa bersahabat untuk mengantar menuju pelabuhan Tenau selama 45 menit.

Sepanjang perjalanan menuju pelabuhan Tenau, panorama laut dari ketinggian mulai menarik mata untuk menikmati pemandangannya.Setelah sampai di pelabuhan, masyarakat lokal yang menjajakan dagangannya mulai menawarkan kepada wisatawan sebelum menaiki Kapal Cepat ML. Express Bahari.

Derungan suara kapal terdengar pukul 09.00 WITA tanda Kapal Cepat ML. Express Bahari mulai berangkat. Karena melewati Selat Pukuafu yang dikenal sebagai segitiga bermuda versi Indonesia, dimana pertemuan tiga arus besar yakni Samudra Hindia, Laut Timor dan Laut Sawu kapal dengan cepat melaju agar kapal tak terbawa arus. Terombang-ambing di tengah lautan dengan deru suara mesin kapal berkecepatan tinggi untuk menghidar dari terjangan ombak yang sedikit besar, para penumpang mulai terlelap tidur terayun di kursi mereka. 1 jam berlalu, mercusuar mulai terlihat dari kejauhan dan deru suara mesin kapal semakin perlahan.

ombak pulau rote

Dermaga di bibir pantai Ba’a beserta para penjemput mulai meramaikan menyambut para wisatawan yang datang sambil menawarkan jasa transportasi menuju pantai Nemberala seharga 400 ribu rupiah per mobil. Perjalanan yang menempuh waktu 45 menit dari dermaga menuju pantai Nemberala, seakan asik dinikmati karena sejauh mata memandang terbentang savana hijau diramaikan hewan-hewan mamalia mencari makan.

Kearifan lokal yang tercermin dari masyarakat sangat terasa saat memasuki sekitar pantai Nemberala. Sapaan dan senyuman dari masyarakat sekitar dan atmosfer pantai beserta jajaran pepohonan kelapa yang mulai terasa bersahabat menyambut saat tiba di Anugerah Dive And Resort, tempat berkumpulnya para surfer dari berbagai negara.

Warna pepohonan dan pasir pantai mulai berwarna kekuningan, para nelayan rumput laut mulai memanen hasil dan membawanya menuju bibir pantai untuk dijemur dikeesokan harinya.Senja berganti malam, para surfer dunia mulai berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam bersama. Suara bincang-bincang dan candaan terdengar meramaikan malam dingin nan berangin.

ombak pulau rote

Seorang ibu tua terlihat menghampiri saya, menyapa bertanya kabar. Bincang-bincang dan candaan yang mulai terasa nyaman, ia pun bercerita seputar pantai Nemberala. Kisah-kisah masa lampau pun mulai diceritakan sang ibu tua, hingga sebuah kisah yang tak bisa dicerna oleh akal pikiran manusia pun diungkapkan.

Dahulu, tersebutlah seorang ibu tua yang memiliki karunia dari Tuhan Yang Maha Esa, bisa melihat bahwa suatu saat nanti ombak di Rote ini bukan sekadar ombak saja. “Ini bukan ombak biasa, suatu saat ombak ini menjadi ombak emas yang akan menghidupi putra-putri kelahiran Rote Ndao”, kata ibu tua tersebut.

Dalam benak pikiran, terus selalu mencerna apa yang dimaksud ombak emas tersebut. Karena malam yang semakin sunyi dan dingin, akhirnya saya bertolak menuju kamar untuk istirahat. Suara lalu lalang tamu resort yang bersiap untuk berselancar di pagi hari pukul 07.00 WITA membangunkan saya dari tidur lelap.

Informasi yang saya dapat hasil bincang-bincang semalam, tampaknya di pagi ini gelombang ombak tampak tinggi dan asik untuk berselancar. Menaiki perahu bermotor kecil dari bibir pantai menuju sedikit ketengah laut bersama peselancar, ternyata memang betul informasi tersebut. Gulungan ombak setinggi 4 meter mulai menerjang dan para peselancar menurunkan surfboard dari perahu dan berenang menghampiri ombak.

Diatas surfboard dan dibawah gulungan ombak, mereka seakan menari di permukaan air laut, meliuk-liuk sampai terhempas terlempar bersama surfboard saat bermain dengan ombak. Gagal mendapatkan momentum, para surfer terus mengulangi kembali untuk mencoba bermain bersama ombak.

ombak pulau rote

Terlihat dari kejauhan, seakan ombak tersebut tampak menggulung surfer hingga ke dasar laut yang penuh dengan karang-karang. Mengetahui akan bahaya tersebut, tetapi para surfer yang memang sudah terbilang profesional memakai perlengkapan yang aman. Mulai dari sepatu karang, kostum khusus untuk surfing hingga pelindung kepala.

Usai beberapa jam mereka bermain dengan ombak, perahu-perahu bermotor kecil menjemput mereka kembali untuk menuju resort dan menyantap makan pagi. Berkumpul bersama para peselancar untuk santap makan bersama, saya pun terdiam sesaat mencerna kata-kata Ibu tua semalam bahwa suatu saat nanti ombak ini akan menjadi emas dan menghidupi masyarakat Rote.

Jawaban atas kata-kata tersebut akhirnya bermuara pada sebuah ombak emas. Emas yang dimaksud adalah para peselancar yang datang ke Rote karena mencari besarnya ombak di pantai Nemberala untuk melampiaskan hobi mereka untuk berselancar. Dimana karena kedatangan para peselancar dari berbagai belahan dunia membawa rezeki untuk masyarakat Rote menjalani kehidupan sehari-hari.

ombak pulau rote

Para peselancar yang menginap di resort ini ternyata mereka memilih untuk long stay selama 2 minggu sampai 1 bulan lamanya karena jatuh cinta terhadap ombak, pelayanan resort yang bersahabat, panorama pantai Nemberala dan kearifan masyarakat lokal. Dimana 1 hari stay di resort ini mereka harus membayar 500 ribu rupiah sudah termasuk makan pagi, siang, dan malam.

Mengisi waktu luang, sambil menunggu sore hari dimana ombak akan naik lagi, beberapa obyek wisata pantai seperti pantai Bo’a dimana sering menjadi tempat ajang kontes surfing international, pantai Manduna dengan karakter pasir pantai seperti butiran merica, dan pantai Vimok yang memiliki karang-karang tajam diselimuti pepohonan bakau yang memesona patut untuk dikunjungi juga.