Atraksi Budaya Terpopuler 2018

1. Irau Rayeh Lundayeh (Kabupaten Nunukan)

Upacara Irau Rayeh (pesta besar) sebagai tanda rasa syukur dan terimakasih kepada Sang Pencipta atas limpahan hasil pertanian dan situasi daerah dalam keadaan aman dan damai. Pagelaran budaya Irau Rayeh Lundayeh memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya melestarikan seni dan budaya warisan bangsa, khususnya seni budaya Dayak Lundayeh agar tidak hilang serta terpengaruh budaya asing sehingga menjadi warisan yang sangat berharga bagi generasi mendatang.

Upacara Irau Rayeh Lundayeh ini selain mengungkapkan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta, juga dijadikan sebagai wadah untuk berkumpul kembali dengan sanak saudara yang terpisah di daerah-daerah lainnya. Selain itu juga untuk menghindarkan daerah ini dari bahaya dan bencana dengan ritual-ritual adat dan keagamaan. Kegiatan Irau Rayeh ini, selain sebagai perayaan seni budaya dan adat lokal, diharapkan ke depan menjadi salah satu agenda tetap untuk kegiatan kepariwisataan yang dapat mendukung peningkatan kunjungan wisata Kalimantan Timur.

2. Lom Plai (Kabupaten Kutai Timur)

Nama lain dari Lom Plai yaitu Emboh Jengea yang berarti Pesta Panen. Upacara ini dilaksanakan oleh masyarakat Suku Dayak Wehea setelah selesai panen padi. Lom Plai sebagai ungkapan rasa syukur atas panen yang telah diperoleh. Terdiri dari beberapa rangkaian pada upacara ini yang masing-masing rangkaian tersebut saling berkaitan yang berlangsung selama
1 bulan. Dimulainya pelaksanaan upacara ini ditandai dengan pemukulan gong yang dilaksanakan di rumah adat (eweang) dan
Lom Plai diakhiri dengan upacara embos epaq plai (membuang hampa padi) yang memiliki makna untuk mengusir dan membuang segala yang jahat bersama terbenamnya matahari serta mendoakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat, ternak dan makanan.

Upacara ini dilakukan untuk memperingati pengorbanan dari Long Diang Yung yaitu putri tunggal dari Ratu Diang Yung, penguasa suku Wehea yang rela mengorbankan dirinya untuk masyarakat yang sedang dilanda bencana kelaparan dan kekeringan. Setelah pengorbanannya, masyarakat dapat hidup makmur dan mendapat panen yang berlimpah. Lom Plai merupakan tradisi peninggalan leluhur yang diwariskan secara turun temurun dan hingga saat ini terus dilestarikan. Untuk mengenang hal itu, maka setiap usai panen masyarakat Wehea selalu menggelar upacara Lom Plai.

3. Pacu Jawi (Kabupaten Tanah Datar)

Pacu Sapi atau Pacu Jawi dalam bahasa Minang adalah merupakan salah satu atraksi budaya yang saat ini sangat terkenal di Sumatera Barat. Asal muasal Pacu Jawi dilakukan oleh para petani dan masyarakat disekitar Kabupaten Tanah Datar dalam mengisi waktu setelah masa panen dan biasanya diadakan 3 kali dalam setahun. Banyak yang mengira Pacu Jawi ini ada di pulau Madura, karena memang yang terkenal akan balapan sapi yaitu daerah Madura dengan Karapan Sapi. Perbedaan yang mencolok antara Pacu Jawi dengan Karapan Sapi adalah lahan yang digunakan. Kalau Karapan Sapi menggunakan tanah datar dan kering sebagai arena, sedangkan Pacu Jawi menggunakan area sawah yang sudah basah. Sehingga jika difoto akan tampak lebih dramatis dan banyak didapatkan momen yang bagus.

Yang unik dari Pacu Jawi ini dilepas sendirian dan tidak dipasang lawan, konon cara ini dibuat agar tidak terjadi taruhan yang kerap terjadi dalam setiap balapan. Awalnya Pacu Jawi murni hiburan bagi para petani usai masa panen dan hal inilah yang membuat Pacu Jawi menarik, meriah, dan berbeda. Jokinya dibekali alat bajak pacu yang terbuat dari bambu sebagai alat berpijak sewaktu perlombaan dan merupakan salah satu peralatan yang digunakan petani untuk membajak sawah. Jika diperhatikan sang joki pada saat memacu sapinya mereka menggigit ekor sapinya, semakin kuat ekor sapi digigit maka semakin kencang larinya. Cipratan lumpur berterbangan, sorak-sorai penonton, serta sesekali alunan musik minang mengalun untuk memeriahkan Pacu Jawi ini. Jika sudah puas menikmati Pacu Jawi, di sekitar arena terdapat pasar rakyat yang banyak menjual kuliner khas Minang yang wajib dicoba satu persatu.

4. Perahu Baganduang (Kabupaten Kuantan Singingi)

Festival Perahu Baganduang adalah atraksi pertunjukan budaya yang dilakukan oleh masyarakat Kuantan Mudik, Kuantan Singingi. Perahu baganduang (perahu bergandung) adalah perahu kebesaran (semacam kereta kencana) yang digunakan di dalam tradisi manjopuik limau. Perahu baganduang merupakan perahu yang digandung (dirangkai) dengan perahu lainnya dengan menggunakan bambu yang dihiasi warna warni ornamen tradisional dan memiliki simbol adat setempat, serta dihiasi janur, kain panjang dan simbol-simbol yang terdapat pada perahu baganduang berkaitan dengan adat dan batobo. Semua simbol dibuat dari bambu yang dibungkus atau dibentuk dengan kain. Perahu baganduong merupakan lambang dari kemegahan, perjuangan, batobo, jalinan kasih, dan bentuk sanjungan seorang bujang kepada seorang gadis.

Perahu Baganduang biasanya dilaksanakan pada hari ke-4 Hari Raya Idul Fitri. Selain perlombaan perahu baganduang tersebut, juga diikuti dengan pertunjukan seni Rarak Calempong, Panjek Pinang, seni tari daerah, kabaret dan juga kegiatan Potang Tolugh. Dalam satu perahu baganduang biasanya diisi oleh 30 pasang muda-mudi. Sehingga tak heran jika acara ini dijadikan juga sebagai ajang pertemuan jodoh para bujang gadis masyarakat setempat. Festival ini digelar setahun sekali, dan bisa dikunjungi oleh para wisatawan dari luar daerah.

5. Robo’ Robo’ (Kabupaten Mempawah)

Robo’-robo’ merupakan sebuah tradisi yang selalu dinantikan oleh masyarakat Mempawah dan sekitarnya. Tradisi yang sangat kental akan adat dan budaya ini merupakan sebuah prosesi napak tilas atas kedatangan Opu Daeng Menambon bersama istrinya di Kerajaan Mempawah yang pada awalnya acara ini digelar untuk menyambut kedatangan Opu Daeng Menambon dari Kerajaan Matan (Tanjungpura) di Kabupaten Ketapang ke Kerajaan Mempawah yang dahulu bernama Panembahan Senggaok untuk menerima kekuasaan dari Panembahan Ratu Putri Cermin.

Bagi masyarakat Mempawah meyakini bahwa Bulan Safar adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan dinanti, dikarenakan pada bulan ini telah terjadi peristiwa yang sangat besar dan penting sehingga selalu diperingati dengan acara Robo-Robo. Dilakasanakan pada hari rabu terakhir bulan Safar penanggalan Hijriah yang dipercaya merupakan hari kedatangan Opu Daeng Menambon di daerah Mempawah. Nama Robo-robo berasal dari kata “rabu” yang juga merupakan hari dilaksanakannya kegiatan tersebut. Setelah melakukan adzan dan membaca doa tolak bala, masyarakat melakukan ritual buang-buang yang bisanya dilaksanakan setelah Dzuhur dengan membuang sesaji di sungai. Setelah ritual tersebut, masyarakat melaksanakan makan saprahan atau makan bersama di halaman depan Istana Amantubillah. Saat ini Robo-robo selain digelar untuk menolak bala, juga untuk mengenang hari wafatnya Opu Daeng Menambon. Guna memeriahkan ritual Robo-robo, masyarakat setempat menggelar hiburan tradisional seperti jepin, tundang atau pantun berdendang, dan lomba perahu bidar serta menampilkan berbagai macam adat dan budaya Melayu Mempawah.

6. Sekura (Kabupaten Lampung Barat)

Pesta Sekura merupakan perhelatan rutin yang diadakan oleh masyarakat Kabupaten Lampung Barat yang selalu diadakan ketika menyambut Hari Raya Idul Fitri. Peserta Acara Pesta Rakyat Sekura diwajibkan untuk mengenakan topeng dari berbagai macam karakter dan ekspresi.

Pesta Sekura sebagai wujud ungkapan rasa syukur dan suka cita menyambut hari yang suci.
Sekura merupakan jenis topeng yang digunakan dalam perhelatan Pesta Sekura. Seseorang dapat disebut bersekura ketika seluruh atau sebagian wajahnya tertutup, dapat berupa topeng dari kayu, kacamata, kain, atau hanya polesan warna. Untuk menambah kemeriahan acara Pesta Sekura bisa dipadukan dengan berbagai macam busana dengan warna-warni yang meriah dan mencolok.

Pesta Sekura menjadi ajang silaturahmi dan menjalin keakraban antar tetangga, berbagai kalangan ikut terlibat aktif dan berbaur menjalin kebersamaan. Setiap peserta dapat membawa berbagai makanan yang didapat dari hasil silaturahmi berkeliling dari rumah ke rumah. Makanan ini kemudian disantap secara bersama-sama dengan para peserta lainnya dalam suasana yang hangat dan kekeluargaan.

7. Tari Angguk (Kabupaten Kulon Progo)

Salah satu kekayaan budaya Yogyakarta adalah Tari Angguk yang merupakan tarian khas Kulon Progo. Tarian ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan setelah panen padi dan diperkirakan tarian ini ada pada era Belanda berkuasa yang diciptakan oleh sekelompok masyarakat yang terpisah secara sosial diluar wilayah Keraton. Tarian ini dinamakan Tari Angguk, dikarenakan untuk merayakannya para pemuda dan pemudi bersukaria dengan bernyanyi dan menari sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Tari Angguk Kulon Progo, pada awal perkembangannya dipergunakan sebagai media penyebaran agama Islam. Seiring berjalannya waktu berkembang menjadi tarian dengan fungsi lain yang lebih universal sehingga dapat dinikmati oleh siapapun, namun tetap kental dengan nuansa Islam yang terlihat dari lantunan vokal pengiringnya. Biasanya ditampilkan ketika ada masyarakat yang sedang melangsungkan pernikahan, supitan dan lain sebagainya.

Perpaduan budaya di tarian Angguk juga tampak dari instrumen musik pengiringnya. Saat ini kesenian Angguk modern sudah mulai disisipi alat musik seperti rebana, bedug, simbal, snare drum bahkan juga keyboard. Nuansa Arab dan Jawa terlihat dari lantunan syair dan nuansa Eropa tergambar dari kostum yang dikenakan para penari.

8. Tari Caci (Kabupaten Manggarai Timur)

Tari Caci adalah kesenian tradisional sejenis Tarian Perang yang khas dari masyarakat Pulau Flores, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara timur. Tarian ini dimainkan oleh dua penari laki-laki yang menari dan saling bertarung dengan menggunakan cambuk dan perisai sebagai senjatanya. Tarian ini sering ditampilkan di berbagai acara seperti saat syukuran musim panen (hang woja), ritual tahun baru (penti), dan berbagai upacara adat lainnya. Dalam pertunjukannya, sekelompok penari tersebut dibagi menjadi dua bagian dan dipertandingkan satu lawan satu. Pertunjukan terlebih dahulu diawali dengan Tari Tandak atau Tari Danding Manggarai yang dilakukan oleh penari laki-laki dan perempuan sebagai pembuka acara dan meramaikan pertunjukan Tari Caci. Setalah tarian pembuka selesai kemudian dilanjutkan dengan atraksi Tari Caci.

Tarian ini merupakan media bagi para laki-laki Manggarai dalam membuktikan kejantanan mereka, baik dalam segi keberanian maupun ketangkasan. Dalam pertunjuakan Tari Caci ini, penari juga menggunakan kostum layaknya prajurit yang akan maju ke medan perang. kostum para penari biasanya hanya menggunakan penutup kepala (pangkal) dan pakaian pada bagian bawah saja, sehingga tubuh bagian atas tanpa busana. Pada penutup kepala penari menggunakan topeng yang terbuat dari kulit kerbau yang keras untuk melindungi wajah dari serangan lawan. Sedangkan pada tubuh bagian bawah menggunakan celana panjang berwarna putih dan sarung songket khas Manggarai berwarna hitam. Sebagai aksesoris diberi giring-giring yang berbunyi mengikuti gerakan penari. Walaupun terkandung unsur kekerasan didalamnya, kesenian ini memiliki pesan damai di dalamnya seperti semangat sportivitas, saling menghormati, dan diselesaikan tanpa dendam diantara mereka. hal inilah yang menunjukan bahwa mereka memiliki semangat dan jiwa kepahlawanan di dalam diri mereka.

9. Tari Saman (Kabupaten Gayo Lues)

Tari Saman adalah sebuah tarian Suku Gayo yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Lagu dan syair dalam Tari Saman mempergunakan bahasa Gayo, pengungkapannya secara bersama dan berkesinambungan, pemainnya terdiri dari para pemuda pria dengan memakai pakaian adat. Biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam beberapa literatur menyatakan Tari Saman diciptakan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara. Tari saman telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia pada tanggal 24 November 2011.

Tari Saman merupakan salah satu media untuk berdakwah yang mencerminkan pendidikan keagamaan (Islam), sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan. Sebelum Tari Saman dimulai dibuka dengan menampilkan seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar) untuk memberikan nasihat-nasihat yang berguna kepada para pemain dan penonton.

Tari Saman merupakan salah satu tarian yang paling populer di Indonesia, bahkan tarian ini sudah dikenal hingga mancanegara, karena keunikannya yang memadukan gerakan tari yang sangat kompak dengan harmonisasi antara lagu dengan paduan suara yang mengiringi gerakan.

10. Wadian Dadas (Kabupaten Barito Selatan)

Seni Tari adalah salah satu bentuk budaya yang menonjol di Kabupaten Barito Selatan. Tari yang terpopuler adalah Tari Wadian, dengan ciri khas menggunakan gelang besar pada tangan para penarinya, sehingga gelang-gelang besar itu senantiasa beradu mengeluarkan bunyi-bunyian yang sangat meriah selama tarian dilakukan. Terdapat tiga lelaki penabuh gendang dengan enam penari perempuan yang menari dengan lincah. Iringan musik bernada tinggi serta pencahayaan yang minim membuat pertunjukan tarian Wadian Dadas Bawi ini semakin kental dengan nuansa mistis.

Formasi tarian berupa gerakan melingkar dan berputar-putar yang menggambarkan mereka sedang melakukan suatu ritual pengobatan sambil diiringi oleh lirik-lirik lagu berupa mantra. Tarian ini memang pada dahulu kala merupakan salah satu sarana pengobatan pada suku dayak ma’nyan, Kalimantan Tengah. Wadian Dadas diyakini diperoleh melalui suatu Ilham yang diturunkan pada seorang wanita bernama Ineh Ngundri Gunung. Dalam ilhamnya, wanita tersebut menjalankan suatu tugas dari dewa untuk menyembuhkan seseorang atau apa yang diperintahkan oleh dewa. Wanita ini merupakan Wadian pertama dan merupakan utusan dewa yang diwujudkan dalam bentuk burung elang dan selanjutnya Wadian akan diteruskan kepada keturunan berikutnya.

Wadian yang semula hidup dimasyarakat primitif kemudian berkembang di dalam masyarakat tradisonal, karena adanya perpindahan komunitas Dayak Ma’nyan ke desa lain. Namun, pada akhirnya Tari Wadian Dadas Bawi cukup berkembang dan tetap dilestarikan di Kalimantan. Namun kini terjadi pergeseran makna tarian yang awalnya sebagai sarana pengobatan menjadi suatu seni tari pertunjukan yang dikemas menarik dan sering ditampilkan pada acara-acara budaya.