JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Terlempar ke Masa Lalu di Istana Siak Indrapura

History
Typography

Kabupaten Siak terletak sejauh 94 kilometer dari ibukota provinsi Riau, kota Pekanbaru. Untuk mengunjungi Siak bisa ditempuh lewat jalur sungai dan jalur darat dari kota Pekanbaru. Saya memilih jalur sungai, agar bisa merasakan langsung denyut kota Siak di masa lalu.
Begitu tiba di pelabuhan Siak dan berjalan keluar dari pelabuhan saya melihat ada warung makan persis di depan pelabuhan Siak. Setelah makan dan bertanya kepada pemilik warung, ternyata istana Siak itu tidak jauh dari pelabuhan, hanya sekitar 500 meter dari pelabuhan. Jadi, begitu keluar dari pelabuhan belok kanan lalu jalan terus hingga menemukan lapangan sepakbola, lalu belok kanan. Disitulah istana Siak berdiri dengan megah.

Saya pun segera beranjak menuju Istana Siak Sri Indrapura.Biaya masuk ke istana siak cukup murah, hanya 6000 rupiah. Awalnya saya berpikir istana Siak ini didalamnya hanya akan ada ruangan kosong dengan berbagai tulisan di dinding mengenai kejadian di setiap ruangan. Namun begitu melangkahkan kaki di dalam istana ini, saya terpesona dengan ruangan depan yang berisi belasan foto-foto dari para pemimpin Siak dari beberapa periode. Foto-foto itu memang tampang usang, namun terpelihara dengan baik karena dibingkai dan terlihat sangat bersih sekali.
Istana siak merupakan kediaman resmi Sultan Siak yang mulai dibangun pada tahun 1889 dan selesai dibangun pada tahun 1893. Istana ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Kerajaan Siak sendiri merupakan kerajaan yang berdiri lebih dari dua abad, yaitu tahun 1723 hingga 1946.
Kerajaan Siak awalnya adalah pecahan dari Kerajaan Melayu yaitu antara Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (Raja Kecil) dan Sultan Suleiman yang dibantu oleh Bugis. Sultan Abdul Jalil akhirnya tersingkir dan berpindah tempat yaitu ke Johor, Bintan, Bengkalis, hingga akhirnya ke pedalaman Sungai Siak, di Buantan sekitar 10 km di hilir kota Siak Sri Indrapura sekarang. Kerajaan Siak pun berkali-kali berpindah ibu kota yaitu di Buantan, Mempura, Senapelan, Mempura, dan terakhir di Kota Tinggi atau Siak Sri Indrapura.


Memasuki ruangan tengah di istana Siak, akan terlihat beberapa patung yang merupakan replika suasana ketika Sultan Siak sedang berbincang dengan tamu atau para bawahannya. Ah, seperti terlempar kembali ke masa lalu saat melihatnya, membayangakan suasana di dalam Istana pada masa itu. Lalu di sebelah kiri terdapat ruangan kristal yang berisi meja makan yang terbuat dari kristal asli lho. Saya jadi membayangkan bagaimana rasanya bila mendapat undangan makan malam di meja tersebut oleh keluarga Sultan.
Di ruangan ini juga terdapat banyak sekali cermin yang digantung di dinding. Ada lebih dari 10 cermin berukuran besar. Menurut guidenya, cermin ini dimaksudkan sebagai pemantul cahaya, baik cahaya matahari dari luar maupun cahaya dari lampu kristal ditengah ruangan yang di jaman dahulu kala yang masih menggunakan lilin. “Agar ruangan menjadi lebih terang” tutur guide yang menemani saya.
Didalam ruangan ini juga ada kursi singgasana Sultan Siak yang terbuat dari emas 24 karat. Saat saya bertanya berapa kilogram emas yang dipakai untuk membuat kursi ini, guidenya cuma bisa menggeleng kepala sambil tersenyum.
Sambil mengabadikan gambar di sana-sini, mata saya tertuju pada ornamen atau hiasan di dekat plafon berupa kepala anjing yang menggigit kelinci dan burung. Saya lihat di beberapa ruangan ini terdapat beberapa ornamen seperti itu. Guide istana Siak menjelaskan, ornamen ini merupakan simbolisasi dari penjajah yang menjajah bangsa Indonesia, Jadi anjing adalah simbolisasi penjajah, sedangkan burung dan kelinci adalah rakyat Indonesia, lebih spesifik lagi, burung elang merupakan simbol kesultanan Siak.


Di ruangan sebelah, ada sebuah benda yang tidak boleh dilewatkan. Benda itu adalah Komet, alat musik kuno yang saat ini hanya tersisa dua di dunia, satu berada di Jerman, satu lagi ada disini, di istana Siak. Alat musik berbentuk lemari setinggi hampir 2 meter ini dibawa dari Jerman pada tahun 1896 oleh Sultan Siak XI, Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil. Alat musik ini terawat dengan baik dengan beberapa koleksi piringan baja sebagai sumber musiknya. Secara berkala, terutama di momen-momen spesial, alat musik ini diputar untuk diperdengarkan kembali suara musik dari Beethoven, Mozart dan Richard Krauss yang masih terdengar merdu dan indah.
Memasuki ruangan paling belakang terdapat rak buku dengan berbagai macam arsip yang tersusun rapi. Menurut guide, arsip-arsip ini adalah berbagai macam surat-surat atau dokumen dari dan untuk Sultan Siak.
Di ruangan yang sama juga terdapat tangga untuk menuju ke lantai dua. Begitu memasuki lantai dua, ada beberapa ruangan yang dulunya merupakan kamar-kamar yang dipakai oleh para keluarga Sultan. Barang-barang dan pajangan di kamar ini tidak seramai di lantai satu.
Ada beberapa peralatan masak yang terbuat dari kuningan yang diletakkan di tengah-tengah ruangan dan juga beberapa foto keluarga Sultan Siak. Selain itu ada juga foto dari Pakoe Buwono ke XI dan foto ratu Wilhelmina dari Belanda lho disini! Keren!!!


Setelah puas mengamati berbagai peralatan yang ada di lantai 2, saya pun turun dan menuju ke bagian belakang istana ini. Di belakang istana ini ada sebuah kereta kencana yang dulu dipakai oleh keluarga kesultanan Siak. Selain itu ada juga kapal Kato Kesultanan Siak yang dulunya selalu dipakai oleh Sultan Siak ketika melakukan kunjungan ke daerah-daerah kekuasaannya. Kapal yang memiliki panjang 12 meter dengan bobot 15 ton ini merupakan kapal besi yang menggunakan bahan bakar batu bara.
Hmm.. Kunjungan yang sangat menyenangkan ke Istana Siak, atau mungkin lebih tepat disebut sebagai museum Istana Siak. Dengan 15 orang guide sekaligus penjaga yang siap membantu dan menjelaskan sejarah Kesultanan Siak, menurut saya pribadi, ini merupakan museum terbaik dari semua museum yang pernah saya kunjungi. Oh ya, ke 15 guide itu juga secara berkala selalu membersihkan semua perabotan di dalam Istana Siak minimal seminggu sekali lho. Dedikasi yang luar biasa.


Sebelum meninggalkan Kabupaten Siak, saya berkesempatan untuk menengok masjid dan makam Sultan Siak di tepi sungai Siak yang berjarak sekitar 200 meter dari Istana Siak. Kedua bangunan ini mudah dikenali karena pagar dan masjid dicat dengan warna oranye dan hijau. Masjid ini merupakan bagian dari sejarah kesultanan Siak Sri Indrapura. Masjid itu adalah Masjid Syahabudin Siak. Nama masjid ini berasal dari bahasa Persia dan Arab, yaitu Syah (Persia) yang artinya penguasa, dan Ad-Din (Arab) yang artinya Agama.
Nama Masjid ini juga mencerminkan nama keturunan Sultan Siak yang berasal dari Arab, yaitu suku Syahad. Keturunan Sultan Siak yang berasal dari arab ini dimulai dari Sultan ke-2 yaitu Sultan Muhammad Ali, yang memerintah Kesultanan Siak pada tahun 1770 - 1779.


Masjid ini dibangun di tahun 1927 dan selesai pada tahun 1935 oleh Sultan Syarif Qasim II, Sultan terakhir yang memerintah Kesultanan Siak Sri Indrapura. Pasti kalian berpikir, kenapa bangun masjid sekecil itu membutuhkan waktu yang lama? Masjid ini dibangun dengan menggunakan dana dari Kesultanan Siak dan sumbangan masyarakat serta dibangun secara gotong royong oleh masyarakat Siak sendiri. Sepertinya Sultan Siak ingin masjid ini bisa dirawat oleh masyarakatnya sendiri, karena sesuatu yang kita bangun sendiri biasanya akan dirawat dan dijaga sebaik mungkin, bukan begitu?!
Di areal masjid ini juga terdapat makam dari Sultan Syarif Qasim II beserta istrinya yang membangun masjid ini. Awalnya masjid ini dibangun sejauh 100 meter dari tepi sungai Siak, namun karena proses erosi pada tepian sungai, jaraknya sekarang hanya 25 meter dari sungai Siak.
Berada di Siak seperti terlempar kembali ke masa lalu. Masa kejayaan Sultan Syarif Qasim II yang dicintai warganya. Itu sebabnya pula nama sultan Siak yang terakhir ini pun diabadikan menjadi nama bandara internasional di provinsi Riau. Istana Siak memang layak mendapat tempat sebagai Situs Sejarah Terpopuler di Anugerah Pesona Indonesia 2017.