JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Dibalik Adzan Pitu dan Sunan Kalijaga

History
Typography

“Alhasil atas izin Allah SWT wabah penyakit Menjangan Wulung pergi dan terpental, bersamaan dengan meledaknya kubah masjid yang terpental hingga ke Kubah Masjid Agung Banten, dan Menjangan Wulungpun terpental sampai ke Indramayu menjelma menjadi labu hitam, makanya adanya larangan memakan labu hitam”

Saat perjalanan kami ke Cirebon kebetulan bertepatan dengan hari Jum’at, setelah mengunjungi Keraton Kasepuhan kami di informasikan perihal Adzan Pitu (tujuh orang muazin), Adzan khusus hari Jum’at  di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Sempat kami bertanya-tanya apa istimewanya ya..? dan agar tidak penasaran, bergegaslah kami menuju Masjid untuk mengikuti Sholat Jum’at.

Setibanya di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon, rupanya telah banyak dipenuhi oleh jama’ah dari berbagai daerah, pedagang-pedagangpun ramai menjejali area parkiran Masjid, yang memang tidak seperti hari-hari biasanya. Masjid yang sangat kental dengan arsitek Jawa Kuno dan bangunannya pun terlihat bangunan tua yang masih kokoh berdiri, seakan memberikan isyarat bahwa Masjid tersebut telah menjadi saksi cerita-cerita penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Menurut cerita yang kami dapat, tradisi Adzan Pitu terjadi di jaman Sunan Kalijaga, kala itu Sunan Kali Jaga memerintahkan 7 (tujuh) orang Muazdin untuk mengumandangkan Adzan secara bersamaan, tujuan Sang Sunan adalah untuk mengusir Wabah Penyakit yang menyerang Masjid dan Jama’ah Masjid, wabah yang menyebabkan kematian tersebut dikenal dengan nama Satria Menjangan Wulung layaknya Leak (dari Bali). Alhasil atas izin Allah SWT wabah penyakit Menjangan Wulung pergi dan terpental, bersamaan dengan meledaknya kubah masjid yang terpental hingga ke Kubah Masjid Agung Banten, dan Menjangan Wulungpun terpental sampai ke Indramayu menjelma menjadi labu hitam, makanya adanya larangan memakan labu hitam.

Selain Adzan Pitu, keistimewaan lainnya adalah masih dilestarikannya khotbah jum’at dengan Bahasa Arab, walaupun sebagian besar tidak begitu mengerti Bahasa Arab, namun para jama’ah tetap mendengarkan dengan khidmat serta khusyuk.

Bagaimana, Apakah Anda ingin merasakan magnet relegi yang ditinggalkan oleh Sunan Kalijaga, ayo jalanjalan dan Jum’atan di Cirebon.

How to Get there
Buat yang mengendarai mobil pribadi, lebih mudah menggunakan jalu Pantura melalui Tol Cikapali (Cikampek – Palimanan), dengan pintu keluar Cirebon atau Pasar Plered. Sedangkan yang menggunakan Kereta Api (Cirebon Express, dll), tersedia banyak angkutan dalam kota maupun charter kendaraan saat Stasiun kedatangan Cirebon, menuju Masjid.

Need to Know
Agar perjalanan Anda khidmat, kami sarankan minimal 1 (satu) jam sebelum waktu Jum’at, Anda telah berada di lokasi.