JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Misteri Ketika Menghitung Seribu Pintu

History
Typography

Rasanya judul diatas tidak terlalu berlebihan, ketika Anda berada di hari yang tepat, jam yang tepat dan di tempat yang telah jadi saksi cerita-cerita sejarah kelam masa lalu, ya.. dimana lagi kalau bukan di Lawang Sewu.

Dalam perjalanan kami ke Jawa Timur beberapa waktu lalu, tiba-tiba teman mengajak mampir ke Kota Semarang, karena saat itu kita menggunakan  kendaraan pribadi jadi tak apalah, hitung-hitung rehat sejenak sambil merasakan keramahan kota penghasil jajanan Lumpia.
Pagi itu kita sudah memasuki kota Semarang, terasa semua otot-otot persendian sampai akar rambut dikepala pun sudah mulai kaku, butuh peregangan dan terapi aroma harumnya kopi hitam, sepertinya wajib hukumnya mencari secangkir kopi panas dengan lumpia hangat, hhmmm akhirnya seluruh persendian dan kepala sudah kembali segar dan siap melanjutkan perjalanan.



Jika Anda sudah berada di Kota Semarang jangan kuwatir, banyak obyek wisata dan budaya yang Anda dapat saksikan, tetapi kami memutuskan langsung ke icon wisatanya Semarang yaitu Lawang Sewu, sepertinya ada kawan yang penasaran ingin menghitung sendiri jumlah pintu atau jendela yang ada, karena Lawang Sewu dalam bahasa jawa yang berarti Pintu Seribu.
Dalam sejarahnya awalnya bangunan ini berfungsi sebagai kantor jawatan perkereta apian milik Kolonial Belanda saat itu, setelah penjajahan Belanda berakhir sekitar tahun 1940, masuknya tentara Jepang ke Semarang menjadikan Lawang Sewu sebagai markas tentara Jepang, selain itu lokasi bangunan bawah tanahnya dijadikan penjara bagi para pejuang-pejuang Indonesia, dan sekaligus menjadi tempat penyiksaan serta pembantaian, kekejian dan kekejaman tentara Jepang adalah bukan cuma cerita belaka, melainkan nyata bahwa Lawang Sewu telah menjadi saksi.

Saat mendekati pelataran parkir Lawang Sewu, kami coba mengamati kemegahan bangunan, tepat ditepi jalan dengan lalulintas yang cukup ramai saat itu, fikiran ku coba menerawang ke jaman penjajahan Jepang... “ternyata walaupun seribu pintu, tak ada satu orang pun yang bisa melarikan dari, walaupun seribu pintu, tangisan keras dan jeritan kesakitan seakan semua tertutup rapat, ya disitulah dicipta neraka bagi para Pejuang, karena tak ada pintu keluar di neraka”.
Sambil berjalan masuk lokasi dan melihat satu persatu ruangan bangunan, saya sampaikan apa yang saya fikirkan tadi ke teman, dan spontan batal menghitung semua pintu-pintu Lawang Sewu, jangan perkarakan jumlahnya, tapi mari lihat bangunan yang menjadi saksi dan jangan lupa men-Do’akan para Pejuang-pejuang Indonesia yang telah rela di siksa tanpa henti demi mempertahankan martabat Bangsa Indonesia.