JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Jejak Kehidupan Manusia Purbakala

History
Typography

Tidak disangka keberadaannya, ternyata Kabupaten Kuningan yang elok, asri dan penuh dengan spot wisata menarik juga menyimpan sebuah cerita dari zaman purbakala.  Lintasan kehidupan manusia prasejarah di zaman megalitikum bias kita kunjungi sebagai tempat wisata menarik serta bahan edukasi yang mendidik.

Di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, merupakan salah satu tempat ditemukannya peninggalan kebudayaan prasejarah di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Selain Cipari, ada paling sedikit delapan tempat di sekitar kaki gunung Ciremai yang terdapat peninggalan bercorak Megalitik, Klasik, Hindu-Buddha, dan colonial Belanda.

Di Taman Purbakala Cipari yang memiliki luas 6364 meter persegi ini ditemukan tiga peti kubur batu yang di dalamnya terdapat bekal kubur berupa kapak batu, gelang batu, dan gerabah. Bekal kubur ini masih tersimpan dalam bangunan museum. Di dalam peti tidak ditemukan kerangka manusia,  karena tingkat keasaman dan kelembapan tanah yang terletak 661 mdpl itu terbilang tinggi, sehingga tulang yang dikubur mudah hancur.

Area di temukannya artefak – artefak batu dan gerabah masih tertata baik,  juga tingkat ke dalaman benda – benda itu terkubur masih orisinal. Peti kubur yang terbuat dari batu indesit besar berbentuk nan artistic masih tersusun di tempatnya semula.  Mengarah ketimur lautbarat daya yang menggambarkan konsep-konsep kekuasaan alam, seperti matahari dan bulan yang menjadi pedoman hidup dari lahir sampai meninggal.

Peti kubur batu yang ada situs purbakala Cipari ini memiliki kesamaan dengan fungsi peti-peti kubur batu di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Masyarakat Sulawesi Utara menyebut peti kubur batu sebagai Waruga,  masyarakat Bondowoso menyebutnya Pandusa, dan masyarakat Samosir menyebutnya Tundrum Baho.

Nah disini juga Anda bias melihat tanah lapang berbentuk lingkaran dengan diameter enam meter dengan dibatasi susunan batusirap. Batu Temu Gelang, dimana dahulu dipercaya sebagai lokasi upacara dalam hubungan dengan arwah nenek moyang serta berfungsi sebagai tempat musyawarah.

Di kawasan ini juga ada altar batu (punden berundak), yakni bangunan berundak-undak yang di bagian atasnya terdapat benda-benda megalit atau makam seseorang yang dianggap tokoh dan dikeramatkan. Altar ini berfungsi sebagai tempat upacara pemujaan arwah nenek moyang.

Di ketinggian tertentu terdapat pula menhir, yakni batu tegak kasar sebagai medium penghormatan sekaligus tempat pemujaan. Ada pula dolmen (batu meja) yang tersusun dari sebuah batu lebar yang ditopang beberapa batulain sehingga berbentuk meja. Fungsi dolmen sebagai tempat pemujaan kepada arwah nenek moyang sekaligus tempat peletakan sesaji. Terdapat juga batu dakon (lumping batu),  yakni batu berlubang satu atau lebih, berfungsi sebagai tempat membuat ramuan obat-obatan.

Area ini sebelumnya merupakan tanah milik Bapak Wijaya serta milik beberapa wargalainnya. Pada tahun 1971, Bapak Wijaya menemukan batuan yang setelah diteliti ternyata peti kubur batu, kappak batu, gelang batu, dan gerabah. Setelah diadakan penggalian percobaan dengan tujuan penyelamatan artefak tahun 1972, tiga tahun kemudian diadakan penggalian total. Setahun kemudian dibangun Situs Museum Taman Purbakala Cipari. Pada 23 Februari 1978 museum diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. DR. Syarif Thayeb.

Jadi jangan lupa untuk berkunjung ke Taman Purbakala Cipari jika Anda jalan-jalan ke Kuningan. Sejuk udaranya, nikmati alamnya dan belajar nilai sejarahnya, Selamat berkunjung…