JA Teline V - шаблон joomla Форекс

The Journey to Bataknese

Leisure
Typography

“Mejuah-juah” sapaan khas dari Batak Karo tersebut terpampang besar-besar ketika pertama kali saya tiba di Taman Simalem Resort, salah satu penginapan yang terletak di bukit Merek, Sumatera Utara. Jika selama ini yang saya tahu hanyalah “Horas!”, maka hari ini saya telah belajar satu kata baru. Sapaan lokal ini tentu sangat membantu, paling tidak dapat mengukir senyum pada orang yang saya sapa dan menolong saya untuk menawar lebih murah ketika berbelanja.
Perjalanan saya kali ini membawaku menuju Danau Toba, salah satu destinasi wisata andalan di provinsi Sumatera Utara. Dari Medan, saya berkendara selama 4 jam dengan berhenti sebentar terlebih dahulu di Brastagi. Semua rasa capek dan lelah tersebut akhirnya sirna manakala saya masuk ke Taman Simalem Resort, sebuah penginapan kelas atas yang menjadi tempat terbaik untuk memandangi matahari terbit dan terbenam dari atas Danau Toba.

 

Saya bisa saja menghabiskan seharian staycation di sini, namun tentu perjalanan saya tak akan lengkap tanpa mengunjungi pulau samosir. Pulau yang luasnya kurang lebih sebesar Singapura ini dapat ditempuh dari pelabuhan Tigaras sekitar 45 menit saja. Perhentian pertama saya adalah desa Tomok, sebuah tempat yang ternyata sangat turistik karena begitu turun dari pelabuhan, sejauh mata memandang hanya tampak deretan pedagang souvenir yang berjajar di sepanjang jalan. Tak heran awak kapal saya mengira saya sengaja ke Tomok untuk berbelanja karena di sini ada lebih dari 500 penjual souvenir yang rata-rata menjual barang yang kurang lebih sama. Saya pun sengaja berjalan cepat sambil tersenyum ramah menolak jualan mereka karena tujuan saya adalah Makam Raja Sidabutar.

Sebelum masuk, saya diharuskan menggunakan Ulos terlebih dahulu untuk menghormati adat istiadat setempat. Setelah itu, saya pun dipersilahkan duduk menghadap makam batu sementara seorang bapak yang masih keturunan raja mulai bercerita mengenai asal usul makam ini. Sang bapak menceritakannya dengan berapi-api namun satu hal yang justru paling saya ingat adalah tentang gambar buah dada yang berjumlah empat yang banyak ditemukan di pahatan khas batak seperti yang saya lihat di gerbang makam raja sidabutar ini. Sang guide mengatakan bahwa ini bukan berarti wanita batak memiliki 4 buah payudara namun itu hanya simbol yang menandakan bahwa dulunya kecantikan seorang wanita bukan dilihat dari wajahnya melainkan dari besarnya payudaranya, yang dapat disimbolkan sebagai kesuburan wanita dan diharapkan dapat memberikan keturunan yang banyak. Sedangkan lambang cicak menandakan bahwa setiap orang batak diharapkan dapat menjadi layaknya cicak, dapat menempel di mana saja alias dapat beradaptasi di mana saja.

Dari sini, perjalanan kembali saya lanjutkan ke ujung pulau samosir yakni menuju desa Ambarita. Begitu speedboat bersandar di dermaganya, saya langsung jatuh cinta. Pedagang souvenir tetap ada, namun tidak banyak dan seagresif di desa Tomok. Desa ini malahan cenderung sepi. Saya pun berjalan kaki sebentar hingga tiba di komplek perumahan raja Siallagan yang dikelilingi oleh dinding batu dan beberapa patung mirip penjaga atau yang disebut juga Pangulubalang.

Di dalam kompleks ini terdapat 8 rumah tradisional yang masih sangat tampak asli dan tetap dihuni hingga saat ini. Di tengah-tengah halaman tersebut, berdirilah satu-satunya pohon besar yang membuat suasana lebih rindang. Guide kami, bapak Christy Siagallan, yang masih keturunan ke 17 dari raja siagallan menyambut saya ramah dan mempersilahkan saya duduk di bawah pohon rindang tersebut, tepatnya di kursi batu yang dahulunya dikhususkan bagi raja dan orang-orang penting. Tanpa sengaja, saya beneran memilih tempat duduk di mana raja Siagallan duduk, hanya berdasarkan insting karena kursi tersebut lebih besar dari yang lainnya.

Dahulu kala, di kursi batu yang membentuk lingkaran inilah berbagai keputusan penting diambil, salah satunya tentang hukuman pancung bagi para musuh atau pengkhianat. Dari sini jugalah legenda keganasan Raja Siagallan yang memakan manusia itu tersebar. Sesuai dengan nama Ambarita yang berarti dalam bahasa lokal artinya terkenal, desa ini juga sangat terkenal dan disegani karena adanya praktek kanibalisme atau memakan orang yang telah dilakukan sejak zaman dahulu kala.

Pak Christy Siagallan, dengan santai menceritakan bahwa jika seseorang tertangkap basah melakukan tindak kriminal yang berat seperti pembunuhan, pemerkosaan, atau jika ada musuh dan pengkhianat yang tertangkap, maka orang tersebut akan dijatuhi hukuman mati. Pelaku kejahatan tersebut terlebih dahulu akan dikurung di bawah rumah sang raja yang biasanya dipakai untuk kandang binatang, dengan tangan dan kaki yang dipasung dan tidak mendapatkan makanan dan minuman selama kurang lebih seminggu.

Lalu, Raja Siagallan dan para petinggi beserta spiritual leader yang dikenal sebagai Ulubalang akan mengadakan rapat di kursi batu tersebut sambil memutuskan hari baik untuk eksekusi hukaman mati bagi para pelaku. Ketika hari eksekusi tiba, para masyarakat pun akan berbondong-bondong menontonnya karena tentunya ini suatu acara besar, mengingat tidak semua pelaku kejahatan dieksekusi mati, hanya yang kejahatannya tidak dapat diampuni lagi. Tentunya hal ini juga berfunsi untuk membuat efek jera ke masyarakat.

Acara yang mengambil tempat di belakang ini dimulai dengan terlebih dahulu memberikan makan kepada sang pelaku namun tetap dengan kondisi tangan terikat di belakang sehingga dia harus memakannya dengan hanya menggunakan mulut. Setelah itu, sang pelaku akan diseret ke meja eksekusi. Dengan posisi terlentang, sang eksekutor akan menyayat dada sang pelaku. Biasanya para pelaku kejahatan ini memiliki ilmu hitam yang kebal dengan siksaan ini sehingga butuh usaha ekstra untuk menyiksanya.

Oleh karena itu, maka diteteskanlah jeruk nipis di atas luka sayatan tersebut lalu sang eksekutor akan memukul mukulnya badan pelaku hingga ilmu hitam itu keluar dari tubuhnya dan si pelaku mengerang kesakitan. Selanjutnya, eksekusi pun akan dilakukan. Hal ini sangat menegangkan karena jika sang algojo tidak dapat menebas kepala pelaku dalam satu kali pancung, maka bisa jadi dia yang dijatuhi hukuman berikutnya.
Namun jika berhasil, maka ketika kepala sang pelaku telah putus dari kepalanya, sang eksekutor akan membelah tubuhnya lalu mempersembahkan organ dalam seperti jantung, liver, dan lain-lain kepada sang raja. Dipercaya jika memakannya, maka kekuatan sang raja siagallan pun akan bertambah, oleh karena itu maka praktek ini sudah dianggap biasa dan bahkan sang raja juga langsung meminum darah korban dari kepalanya.

Sisa-sisa organ tersebut akhirnya dibagi-bagikan kepada masyrakat. Setelah itu, jasad sang pelaku pun akan dibuang ke Danau toba sedangkan kepalanya dibuang ke dalam hutan agar tidak bersatu kembali. Nah, gak heran jikalau Danau Toba itu mistis yah?
Anyway, Pak Christy Siagallan menegaskan praktek ini dilakukan hanya karena sang raja ingin mengambil ilmu hitam dari si pelaku. Jika dibilang mereka kanibal, mungkin agak salah mengingat mereka bukan memakannya karena mereka kelaparan, tidak ada makanan karena toh mereka tidak mengkonsumsi dagingnya, hanya organ dalam si pelaku hukuman pancung.

Seram? Pastinya. Namun tak perlu takut karena praktek ini pun sudah lama berhenti ketika agama Kristen masuk ke pulau Samosir. Puji Tuhan!