JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Tradisi Kisah Para Pemburu Paus Lamalera

Culture
Typography

bagaimana caranya membedakan mana Paus yang bias diburu dan mana Paus yang tidak boleh diburu? Sambil tersenyum sipu Papa Dasion pun menjawab, kita bias mengetahui dari cara semburan air.

3 jam lamanya saya menempuh perjalanan dari Lewoleba menuju desa para kesatria pemburu ikan Paus yakni Lamalera. Infrastruktur yang kurang baik dan terjalnya medan untuk sampai disana membuat para wisatawan domestic dan mancanegara sedikit enggan untuk sampai di Lamalera.

Setibanya di desa Lamalera, beberapa  masyarakat tersenyum sipu menyapa sapaan dari saya, dan beberapa lagi terasa terdiam tak membalas sapaan. Hati pun bertanya apakah masyarakat desa Lamalera enggan membalas sapaan saya ?. Teman pun berbicara perlahan kepada saya, “masyarakat disini sedikit curiga akan setiap orang asing yang dating ke Lamalera karena isu tentang konservasiikan Paus tersebut”, kata teman.



Mengetahui hal itu, saya pun diajak untuk kerumah kepala Desa Lamalera A. Yosef Molan Dasion, pria nan bersahaja yang menyambut dengan rasa bersahabat sangatlah berbeda dengan beberapa masyarakat yang saya sapa tadi. Cerita demi cerita dari Papa Dasion yang akrab disapa demikian, menjadikan saya banyak mengetahui kehidupan dan pemikiran masyarakat di Lamalera A dan B.

Dengan rasa penasaran saya pun bertanya kepada Papa Dasion, bagaimana caranya membedakan mana Paus yang bias diburu dan mana Paus yang tidak boleh diburu? Sambil tersenyum sipu Papa Dasion pun menjawab, kita bias mengetahui dari cara semburan air. Jika semburannya miring itu paus Sprem Whale atau akrab disebut oleh masyarakat Lamalera yakni Kotoklema. Dan apabila semburannya lurus keatas itu ikan Paus yang tidak boleh kami bunuh.

Selain itu, mereka pun tidak menangkap jika ikan Paus yang sedang hamil, dari ciri-ciri seperti sedang membawa anak-anak Paus. Dan juga apabila jaraknya sudah terlalu jauh kita tidak bias memburunya. Levanuang atau musim melaut yang dimulai dari bulan Mei hingga Oktober sebelumnya memang melalui proses ritual pemberkatan.

Setiap peledang atau perahu, tempuling atau tombak dan para Matros atau kelompok dalam satu peledang mendapatkan pemberkatan sebelum melaut agar diberikan kelancaran dan kemudahan. Memang tak selamanya dalam melaut lancer begitu saja, Papa Dasion menuturkan bahwa terkadang melaut mendapatkan musibah seperti kapalnya pecah, atau kecelakaan itu kerap terjadi.

“Apabila itu terjadi para pelaut pulang dan introspeksi diri masing-masing, dan saling terbuka satu sama lainnya. Apabila dalam satu perahu ada yang sedikit berbeda pendapat ataupun rebut mereka harus saling meminta maaf”, ungkap Papa.

Setelah banyak cerita dari Papa Dasion, saya pun pergi menghampiri bibir pantai tempat dimana para kesatria tersebut melaut. Dari kejauhan mereka terlihat terdiam terus menatap tajam kearah lautan sambil memperbaiki jaring-jaring yang terputus saat menangkapikan. Perahu-perahu yang bersandar dilengkapi tombak dan tali-tali berukuran besar untuk menarik ikan Paus telah dipersiapkan dengan baik.

Tetapi memang betul adanya mereka tidak sedikit bersahabat akan kedatangan orang asing, mereka sedikit acuh saat saya menyapa. Tetapi dengan rasa hormat dan perduli saya, perlahan tanya-jawab antara saya dan mereka mulai terasa bersahabat dan sesekali mereka tersenyum hingga candatawa pun terjadi.

Saya berpikir inilah sebenarnya tipikal masyarakat Lamalera, mereka selalu berperilaku baik, santun dan bersahaja kepada siapa saja yang datang. Tetapi isu-isu yang tak sedap membuat mereka merasa takut dan terganggu akan kelangsungan kehidupan mereka kedepan.

Saya pun bertanya kepada bapak tua yang tengah memperbaiki jaringnya, “apakah bapak tidak berburu lagi” ?,ia pun menjawab sambil tersenyum, “kami ini sambil santai-santai dan terdiam, tetapi kami selalu siaga dan mata melihat kelautan untuk memantau ikan Paus yang melintas. Apabila kami melihat semburan dari ikan Paus lalu berteriak Baleo, Baleo, Baleo dimana tanda ikan Paus itu muncul, dan kami akan dorong perahu ramai-ramai pergi kelautan untuk memburunya”.

Setelah ikan Paus itu tidak berdaya terkena tombak yang ditikam dari seorang ahlinya, mereka bahu-membahu membawa ikan Paus kedaratan untuk dibagi-bagi. Setiap anggota pemburu mendapatkan bagian yang berbeda-beda, mulai dari juru tikam, juru pembuat perahu, anggota dan kepala ikan Paus dipersembahkan untuk tuan tanah.

Dan lalu sisanya dibagi-bagikan kepada masyarakat seluruh desa Lamalera juga fakir miskin yang ada di desa tersebut. Hasil potongan ikan Paus tersebut dijemur hingga kering agar keawetan dari daging ikan tetap terjaga, juga terkadang minyak ikan Paus digunakan sebagai minyak goring dan obat-obatan yang terpercaya khasiatnya.

Dari situlah saya berpikir, di keadaan alam yang kurang mendukung untuk bercocok tanam, masyarakat Lamalera menukarkan hasil buruan mereka dengan beras, jagung dan kebutuhan pokok sehari-hari di pasar yang dibawa oleh masyarakat desa sebelah. Apabila konservasi tentang pelarangan perburuanikan Paus dijalankan, sudah berarti 263 kepala keluarga di Lamalera A dan jumlah yang sama di Lamalera B akan mengalami kepunahan.

Bukan hanya tradisi budaya yang telah berakar turun-temurun hilang begitu saja, melainkan nasib hajad hidup masyarakat Lamalera pun terancam. Untuk itulah, perlunya sosialisasi dan regulasi dari pihak pemerintah dan orang-orang perduli lingkungan hidup duduk bersama, memikirkan masyarakat Lamalera.

Bagaimana pun juga tradisi budaya yang telah lama adanya tetap dilestarikan dengan baik, karena masa depan masyarakat Lamalera harus tetap terjaga. Dengan kepintaran dan pengetahuan yang telah turun-temurun, masyarakat Lamalera pun secara tidak langsung menjaga agar ekosistem ikan Paus tersebut terus berlangsung dan tidak mengalami kepunahan.