JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Babarit untuk Usir Ririwit

Culture
Typography

Kemeriahan hari Jadi Kuningan begitu terasa ketika ribuan warga tumpah ruwah memadati kawasan Siliwangi hingga taman kota Kuningan, pandangan mereka terpaku pada sebuah perhelatan budaya yang ditampilkan untuk memeriahkan.

Sorak-sorai dan alunan nada-nada khas pasundan terdengar merdu meramaikan khazanah budaya pasundan yang menjadi tradisi untuk terus di lestarikan. Tercatat, dari berbagai elemen pemerintahan dan non pemerintah ikut meriahkan perhelatan budaya ini.

Kreasi seni dan pawai dari kawasan Pendopo Kuningan hingga panggung kehormatan yang ada di taman kota terus diramaikan oleh warga Kuningan yang antusias menikmati pagelaran ini.

Ribuan warga Kuningan telah memadati Jalan Siliwangi, Kabupaten Kuningan, sejak pagi hari. Antusias mereka yang menunggu pesta rakyat menunggu tumpeng gunungan nasi kuning dari ukuran besar hingga kecil akan disantap bersama-sama. Jajaran pemerintahan tertinggi di Kabupaten Kuningan hingga rakyat menyatu bersama menikmati berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Ritual Babarit yang dilakukan sebagai simbol mengusir ririwit atau energi negatif ini memang memiliki sarat makna yang dalam untuk ucapan syukur atas berkah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa atas kemakmuran rakyat Kabupaten Kuningan. Bupati Kuningan, Hj Utje Ch Suganda, S.Sos, M.A.P, yang memimpin langsung pagelaran ini didampingi Wakil Bupati H. Acep Purnama M.H dan beberapa pejabat pemerintahan Kabupaten Kuningan mengawali prosesi ini.

Beberapa penari tampak mulai menampilkan gerakan gemulainya sambil membawa air dan memasukkan air ke dalam bokor atau tempat air tradisional di depan gunungan tumpeng. Ibu Bupati pun mulai memasukkan beberapa helai daun untuk dihelaskan empat penjuru mata angin yang berarti mengusir hal-hal negatif.

“Budaya Babarit harus terus dilestarikan karena merupakan salah satu asset budaya yang memiliki nilai-nilai budaya adat istiadat masyarakat yang cukup tinggi juga merupakan ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunianya dan penghargaan pada leluhur setempat”, kata Bupati Kuningan.

Bupati pun mulai memotong tumpeng, dimana potongan pertama diserahkan langsung pada sesepuh Kuningan H. Aang Hamid Suganda sekaligus memberikan suapan pertamanya. Setelah itu, secara serentak tumpeng-tumpeng lainnya pun disantap bersama-sama warga yang hadir memadati acara ini.