JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Sensasi Pedas Sedap Ayam Taliwang

Culinary
Typography

Barangkali tak pernah terbayang di benak Nini dan Papin Manawiyah bila Ayam Taliwang bakal sangat populer. Berawal di sebuah warung nasi sederhana di daerah Karang Taliwang, Kota Mataram, Ayam Taliwang mereka ciptakan untuk pertama kalinya pada tahun enam puluhan.

Kini Ayam Taliwang telah merambah ke dalam daftar menu banyak restoran ternama di kota-kota besar di Indonesia. Tak hanya jago kandang, Ayam Taliwang ternyata juga mendapatkan sambutan luar biasa dari para penggemar kuliner internasional dalam ajang World Street Food Congress (WSFC) 2015 di Singapura.

Ketenaran Ayam Taliwang bak magnet yang kuat, menarik saya untuk datang langsung ke Lombok. Meski pernah mencicipi Ayam Taliwang di kampung halaman sendiri, keinginan untuk menyantap Ayam Taliwang di daerah asalnya begitu menggelora. Alhasil, pada medio April 2016, saya bertandang ke wilayah yang dinobatkan sebagai World Best Halal Tourism Destination 2015 tersebut bersama empat orang kolega.

Ayam Taliwang menjadi pilihan utama kami untuk memanjakan lidah setelah berpetualang seharian. Keasyikan menikmati eksotisnya Pantai Tanjung An dan Pantai Kuta hari itu ditutup dengan sajian lezat Ayam Taliwang. Di sebuah restoran di salah satu sudut kota Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat, beragam rasa Ayam Taliwang tersaji. Ada rasa manis madu, pedas sedang, dan pedas sangat yang dapat dipilih sesuai selera. Yang takut pedas, maka cukup pilih rasa manis madu. Tetapi, yang hobi rasa ’cadas’ seperti saya, rasa pedas wajib untuk dicoba.

Tak seberapa lama pesanan kami datang ke meja. Setiap Ayam Taliwang terhidang di sebuah piring. Sambal kacang berwarna coklat-kemerahan disajikan terpisah dalam sebuah piring kecil. Warna kecoklatan pada ayam jadi sebuah pertanda bila ayam itu telah dibakar dengan sempurna. Sungguh menggugah selera. Apalagi aroma harum jeruk limau yang keluar dari ayam mengambang di udara, lalu langsung mendarat di hidung saya. Ehmmm... Saya jadi tak sabar untuk segera menyantapnya.

”Dhaaaar!” Pedasnya meledak di mulut. Lidah bagai terbakar. Sejurus kemudian, rasa gurih, asam dan manis menyusul sensasi super pedas itu secara bergantian. Peluh langsung bercucuran di wajah. Saya makan Ayam Taliwang dengan lahap. Rasanya benar-benar ”maknyus!”. Efek lain yang tak dikira, saya pun menambah nasi berkali-kali.

Kelezatan Ayam Taliwang terletak pada kualitas bahan dan bumbu yang digunakan, serta metode pemasakannya. Ayam yang dipakai hanya ayam kampung muda, sehingga didapatkan daging yang empuk. Serat daging yang masih lunak membuat bumbu meresap sempurna ketika dibakar. Sementara itu, bumbu yang terdiri atas bawang merah, bawang putih, cabai rawit, cabai keriting,  kemiri, terasi, dan garam diracik sedemikian rupa. Bahan lainnya, seperti santan kelapa, gula merah, dan perasan jeruk limau ditambahkan agar rasa Ayam Taliwang semakin sedap. Masing-masing dari bahan itu ditakar secara cermat. Tentu, perbandingannya menjadi rahasia restoran.

Tahapan memasak Ayam Taliwang cukup panjang. Ayam yang sudah dicuci bersih dibelah membujur searah dada dan sayap, serta kakinya dilipat keluar. Ayam terlebih dahulu dibakar di atas bara api hingga setengah matang. Lalu, ayam tersebut dimasukkan ke dalam tumisan bumbu, lalu diguyur dengan santan dan ditaburi gula merah. Ayam diaduk bersama bumbu hingga mengalami karamelisasi. Proses memasak tak berhenti sampai di situ. Untuk terakhir kalinya, ayam tersebut dibakar hingga matang dan dipoles bumbu sekali lagi. Cara memasak seperti ini menghasilkan rasa berlapis.

Makan Ayam Taliwang tak lengkap rasanya tanpa Pelecing Kangkung. Isinya berupa rebusan kangkung, kacang panjang, dan tauge, serta parutan kelapa, yang ditimpa sambal tomat bertabur kacang goreng. Terasi diselipkan ke dalam sambal untuk membangkitkan rasa gurih. Kangkung yang digunakan dalam Pelecing Kangkung berdaun lebih lebar dengan batang lebih besar. Tumbuhan ini ditanam pada aliran sungai dengan metode khusus ala Suku Sasak. Konon, jenis kangkung tersebut hanya bisa tumbuh dengan baik di Pulau Lombok. Keistimewaan kangkung ini memang terbukti nyata ketika sudah sampai di mulut. Begitu renyah tatkala dikunyah.

Seporsi Ayam Taliwang yang saya nikmati dibanderol dengan harga Rp45.000. Sedangkan harga Pelecing Kangkung, hanya Rp7.000. Tidak kuat dengan pedasnya Ayam Taliwang? Tenaaang! Ada Es Kelapa Muda Madu Kristal. Saya turut mencobanya. Segarnya membasuh dahaga. Rasa manisnya madu mampu mengobati mulut yang ’kepedesan’ Ayam Taliwang. Segelas Es Kelapa Muda Madu Kristal ini harganya Rp25.000.

Menikmati langsung kelezatan Ayam Taliwang di Lombok membuka mata saya bahwa pusaka kuliner nusantara itu begitu memesona. Kuliner tak hanya urusan perut semata, tapi juga merupakan suatu bentuk kearifan masyarakat di sana dalam mengolah setiap bahan yang telah disediakan alam. Inilah salah satu cara untuk menghargai karunia dari Tuhan.

Ayam memang ada di mana-mana, tetapi rasa unik hasil olahannya hanya bisa ditemukan pada Ayam Taliwang. Bersama bumbu lain, masakan ayam ini tampil berbeda. Pedas, manis, asam, dan gurih Ayam Taliwang seolah berlomba di lidah, membawa saya ke dalam suatu petualangan rasa nan luar biasa.
Tertarik mencoba? Ayo berwisata ke Lombok sekaligus mencicipi sajian Ayam Taliwang!

Ayam Taliwang; Dari Ikon Kuliner Nusantara hingga Alat Diplomasi Negara Di era globalisasi ini, hubungan antar bangsa tak terbatas pada level pemerintah. Namun, aktor non negara, seperti korporasi, akademisi, dan masyarakat biasa juga ikut terlibat. Berkat perkembangan transportasi udara, bepergian ke berbagai belahan dunia sekarang begitu mudah. Mencari petualangan baru atau berkecimpung dalam urusan pekerjaan di negara lain menjadi agenda rutin warga dunia. Karena  hal ini, tak sedikit dari mereka memanggil sebuah negara dengan sebutan ’my second home’ karena sudah kadung jatuh hati pada negara itu.

Bagi negara tujuan, kedatangan orang asing berarti berkah karena membuat perekonomian berputar lebih kencang. Coba perhatikan bagaimana pariwisata telah menyediakan lapangan kerja bagi jutaan penduduk. Industri pendukungnya, seperti penerbangan, perhotelan, restoran, dan pangan pun ikut tumbuh subur. Maka untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya, nation branding perlu dibangun untuk membentuk citra positif sebuah negara.  
Banyak instrumen yang bisa dipakai dalam nation branding. Salah satunya, khasanah kuliner sebuah bangsa. Dalam kaca mata hubungan antar bangsa, kuliner dapat dipandang sebagi bahasa universal yang bisa diterima siapa pun. Dalam kuliner, hanya diperlukan indera penglihatan dan indera pengecap untuk menikmatinya. Tak akan ada kendala berarti bagi orang-orang berlatarbelakang berbeda untuk duduk dan berinteraksi bersama dalam satu meja.

Bagaimana potensi Indonesia dalam mengangkat kekayaan kulinernya untuk kepentingan nation branding-nya? Jawabannya jelas. Dengan keanekaragaman budaya, kita bisa mengangkat khasanah kuliner Nusantara untuk memperkuat citra kita di kancah internasional. Namun, melihat banyaknya ragam kuliner yang kita miliki tampaknya akan susah bagi dunia internasional untuk gampang melabeli kita dengan sebuah ciri khas kuliner tertentu. Berbeda dengan Thailand yang identik dengan Tom Yam Gung atau Pad Thai-nya.
Nah, karena persoalan di atas, maka perlu signature dish yang bisa mewakili Indonesia di panggung dunia. Adalah Ayam Taliwang, kuliner khas Lombok ini mampu menjalankan misi tersebut. Beberapa prestasi internasional pernah ditorehkan baik oleh Ayam Taliwang sendiri maupun Lombok sebagai tempat asal Ayam Taliwang. Ayam Taliwang pernah mendapatkan sambutan luar biasa dari para pemburu kuliner internasional di ajang World Street Food Congress (WSFC) 2015 di Singapura. Ciri khas pedasnya justru menjadi faktor pembeda dengan kuliner dunia lainnya.

Bahkan ketika acara tersebut berlangsung, banyak orang asing menantang teman-temannya untuk berani mecicipi pedasnya Ayam Taliwang. Alhasil, Ayam Taliwang ludes terjual sebelum jam festival itu habis. Melihat antusiasme ini, sebenarnya Indonesia bisa menjadi kiblat masakan pedas. Festival kuliner pedas internasional dapat digelar untuk memperkuat citra negara. Kita mahfum bahwa karena cabai merupakan bahan pangan pokok di negeri ini, banyak kuliner kita yang bercita rasa pedas.
Hal pendukung lainnya untuk mengangkat Ayam Taliwang sebagai ikon kuliner internasional adalah kemenangan Lombok dalam ajang  World Halal Tourism Award 2016. Tak tanggung-tanggung, tiga kategori disabet oleh pulau berjuluk Bumi Gora tersebut, sebagai World Best Halal Tourism Destination, World’s Best Halal Honeymoon Destination, dan rumah bagi World’s Best Halal Beach Resort. Modal ini perlu dieksploitasi lebih lanjut. Selain untuk menambah kedatangan wisatawan mancanegara, penghargaan tersebut bisa membantu promosi kuliner khas Lombok ke level yang lebih tinggi, terutama Ayam Taliwang. Lombok bisa lebih tersohor tidak hanya karena kecantikan pantai-pantainya, tetapi juga kekayaan kulinernya. Alam yang indah dan kuliner yang nikmat, paduan pas yang pasti diburu banyak wisatawan.

Sebagai wakil negara di luar negeri, kedutaan besar Indonesia sering menggelar pesta budaya dan kuliner Nusantara. Salah satunya adalah Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Houston, Texas, AS. Pada tanggal 5 November 2016 lalu, KJRI Houston menyelenggarakan Indonesian Culinary Festival 2016 yang menyedot animo ribuan pengunjung. Dalam ajang ini, Ayam Taliwang lengkap dengan Plecing Kangkung sukses diperkenalkan kepada masyarakat Texas. Kuliner ini dihadirkan untuk mewakili Zona Sunda Kecil atau sekarang dikenal sebagai wilayah Nusa Tenggara.

Kabar membanggakan lainnya datang dari Garuda Indonesia. Maskapai plat merah tersebut mulai menyajikan Ayam Taliwang bagi penumpang kelas bisnis pada penerbangan Jakarta-London pada medio tahun 2017 ini (Antaranews.com, 22/10/2016). Upaya ini tentunya patut diapresiasi mengingat sudah terlihatnya langkah terintegrasi dalam mempromosikan pariwisata Nusantara. Penyajian Ayam Taliwang di atas pesawat ibarat sebuah invitasi kepada penumpang Garuda, terutama orang asing untuk menjelajahi keindahan alam dan budaya Lombok.

Ayam Taliwang tak hanya lezat, tetapi juga menyiratkan banyak hal yang senada dengan pandangan universal. Kepopulerannya mengingatkan kita pada konsep ’eat well’ , makanan harus baik untuk tubuh mulai dari pemilihan bahan hingga pengolahannya. ’Eat well’ dapat berkiblat pada warisan leluhur. Dengan bahan-bahan alami dengan kualitas terbaik, Ayam Taliwang dibuat tanpa pengawet, sehingga dapat menghasilkan cita rasa yang luar biasa. Sehat dan lezat bisa menjadi ’brand’ ayam khas Lombok tersebut.

Plecing Kangkung sebagai hidangan pendamping Ayam Taliwang juga mengajarkan kita tentang pesan untuk menjaga lingkungan. Memang kangkung yang digunakan dalam Plecing Kangkung berbeda. Dauannya lebih lebar dengan batangan lebih besar dari pada kangkung pada umumnya. Kangkung ini ditanam pada aliran air jernih dengan metode tradisional ala Suku Sasak. Perlakuan terhadap tanaman air seperti itu membuat Plecing Kangkung terasa renyah dan ’juicy’ saat dinikmati. Bila rasa Plecing Kangkung ingin selalu dipertahankan seperti itu, maka kita wajib menjaga lingkungan tempat tumbuhnya kangkung Lombok agar tetap bersih.

Dewasa ini, sebuah hidangan tak sekedar pemuas perut. Ia juga bisa menjadi sebuah identitas suatu negara bila dimanfaatkan dengan baik dalam promosi suatu negara. Beruntung kita punya ragam kuliner bercita rasa khas, seperti Ayam Taliwang khas Lombok.  Tak ada masakan ayam lainnya serupa dengan Ayam Taliwang. Dibalik kelezatannya, tersimpan pula kearifan lokal yang syarat dengan pembelajaran. Pertama, kepiawaian dalam memanfaatkan apa saja yang disediakan oleh alam. Kedua, sebagai manusia tidak boleh lupa atas kewajiban kita dalam menjaga alam. Sehingga kemurahan alam yang terwujud pada kelezetan suatu hidangan selalu bisa kita nikmati. Mengeksploitasi alam boleh-boleh saja asal dilakukan secara bertanggung jawab.

*Writer by Anjas Prasetyo
*Photo by Anjas Prasetyo, & Photo stock ayojalanjalan.com  
Lomba Penulisan Artikel Anugerah Pesona Indonesia 2016